recently featured posts we've got 105 articles so far

Williamsburg Conference Agenda 0

Jun7

Overview Asia Crisis

  • GDP in emerging Asia, excluding China and India, plummeted by no less than 15 percent on a seasonally adjusted annualized basis in the last quarter of 2008, with the IMF forecasting an average decline for this category of Asian countries of 2.9 percent for 2009.
  • Much of Asia relies for its growth engine on high-and medium- technology manufacturing exports—in particular, motor vehicles, electronic goods, and capital machinery.
  • The demand for advanced manufacturing has collapsed—Japanese auto exports, for example, have fallen by nearly 70 percent between September 2008 and March 2009. At the same time, Asia’s financial ties with the rest of the world have deepened over the past decade, exposing the region to the forces of global deleveraging
  • Looking ahead, Asia’s growth path will continue to run parallel to the global economy. For the rest of 2009, the external shock is expected to continue to spill over into private investment and consumption, causing many countries to register negative growth rates. Then, as the global economy revives in 2010, so too will Asia. But the recovery is likely to be tepid—and not only because the global economy will remain weak. Experience shows that investment tends to recover slowly from downturns, especially those that involve financial stress, the report says.

Solution:

· Forceful countercyclical policies should be sustained to help Asia come out of the recession more quickly and vigorously, and to provide insurance against downside risks.

· On the fiscal policy side, it will be important to sustain the stimulus injected in 2009 into next year, not least as an insurance policy against risks that have yet to reveal themselves. At the same time, it will be critical to preserve fiscal credibility by signaling that such stimulus packages are extraordinary and will be unwound once the recovery is firmly established.

· On the monetary policy side, many central banks still have scope to reduce policy rates, while some may need to support credit to the private sector through unconventional measures.

· Asia may need to rebalance growth away from exports and toward domestic demand in order to return to pre-crisis growth rates. China is already trying to catalyze private consumption, which has been falling for a decade relative to GDP.

· Over the longer term, exchange rate appreciation also might help by providing price incentives to shift resources toward production for domestic use and by raising real household income, thereby spurring consumption, the report states.

Climate Change

· An obvious way forward is to support public energy efficient policies in non-OECD countries as well as to promote the use of renewable energy. Mobilization at the local level around this global issue will depend on our ability to refocus the debate on long-term energy strategies as well as local co-benefits like energy security or pollution abatement. With its capacity to support public policies over the long term, development assistance will play a key role.

· Provide payment for ecological services rendered, could be scaled up. Designing a compensation system to remunerate “avoided deforestation” would allow the countries concerned to benefit from the value of their natural capital. Only by using such mechanisms will we demonstrate that our priority is the future.

· There are a number of practical solutions we can implement to protect our climate. Development assistance, which can support essential technology transfers, facilitate financing and be an instrument of collective action, can serve as one of the important vehicles for these good “recipes.”

· There will be no improvement in the environment without growth, nor will there be any sustainable growth without radical change in the underlying environmental paradigms.

membuat sebuah website… 0

May26

tiga bulan sudah akhirnya aku menyelesaikan website musikku, banyak pro kontra dalam pembuatannya..ada yang bilang itu pembajakan lah, illegal..akhirnya aku pun menghentikan untuk upload lagu lagu.. tapi kemudian aku mengambil link2 yang diupload di 4shared.com. hahaha..saya tidak membajak tetapi membantu menyebar luaskan informasi musik…silahkan kunjungi situs saya di musicact.net

Review Buku: Makmur Bersama Masjid “ Refleksi Pembangunan Masyarakat Madani” 1

May6

Buku ini menjelaskan kepada pembaca bagaimana perjuangan masyarakat Kabupaten Agam dalam mengatasi persoalan utama, yaitu kemiskinan. Upaya sistematis dilakukan pemerintah daerah dengan kerjasama dari berbagai pihak seperti legislatif, cendikiawan dan masyarakat. Ciri dalam pembangunan Kabupaten Agam diantaranya adalah upaya mengembalikan fungsi masjid dan kelembagaan ekonomi sistem syariah.

Kemiskinan di Agam disebabkan oleh rendahnya pendidikan dan kualitas SDM-nya. Mereka kebanyakan bekerja di sektor persanian dan terdistribusi pada lokasi yang berbeda. Rendahnya SDM ini menyebabkan jeleknya fungsionalitas kelembagaan dan pengembangan nilai tambah dalam penciptaan produk barang dan jasa.

Melihat hal tersebut, maka pemerintah Agam mengeluarkan tiga program andalan, yaitu Agam Agrocity (AA), penanggulangan kemiskinan berbasiskan masjid, dan memaksimalkan BMT.

Melihat potensi pertanian yang baik di Agam, maka konsep Agam Agrocity (AA) pun dibentuk untuk meningkatkan nilai tambah produk dan jasa yang dihasilkan. Dengan sentuhan iptek maka dalam jangka panjang pertumbuhan industri pertanian yang berkesinambungan akan menjadi sasaran dari dibentuknya konsep AA ini.

Melihat kebudayaan masyarakan Agam yang religius, maka pada tahun 2005 dikembangkanlah koperasi masjid serta pengumpulan sumber dana zakat yang berasal dari masyarakat. Berbagai program seperti pelatihan kelembagaan pun dilakukan untuk memperbaiki sistem zakat ini.

Pemerintah sadar bahwa masyarakat miskin di Agam tidak memiliki jaminan untuk meminjam di Bank. Oleh karena itu, dalam memerangi kemiskinan pak Aristo Munandar sebagai Bupati Agam memulai gerakan baru mengenai optimalisasi peran Baitul Mal wat Tanwil (BMT) di tiap masjid yang ada hingga memberikan dampak positif bagi pembangunan umat. Penekanan akhir dalam buku ini adalah bagaimana merubah mindset (pola pikir) masyarakat konsumtif, ke masyarakat produktif. Dengan optimalisasi BMT, banyak masyarakat bisa mengembangkan usaha. Gerakan BMT saat ini telah berhasil membantu pemerintah mengurangi kemiskinan, dan membuka lapangan kerja baru bagi para pengusaha UKM.

Oleh: Prof. Elfindri dan Aristo Munandar

Mengembangkan Ekonomi Kerakyatan dengan Akselerasi Sektor Riil dan UMKM (Dot Poin) 1

Apr29

  • UKM perlu dikembangkan karena. Pertama, UMKM menyerap banyak tenaga kerja. Kedua, UMKM memegang peranan penting dalam ekspor nonmigas, yang pada tahun 1990 mencapai US$ 1.031 juta atau menempati rangking kedua setelah ekspor dari kelompok aneka industri. Ketiga, adanya urgensi untuk struktur ekonomi yang berbentuk piramida, yang menunjukkan adanya ketimpangan yang lebar antara pemain kecil dan besar dalam ekonomika Indonesia.
  • Masalah dasar yang dihadapi UMKM adalah: Pertama, kelemahan dalam memperoleh peluang pasar dan memperbesar pangsa pasar. Kedua, kelemahan dalam struktur permodalan dan keterbatasan untuk memperoleh jalur terhadap sumber-sumber permodalan. Ketiga, kelemahan di bidang organisasi dan manajemen sumber daya manusia. Keempat, keterbatasan jaringan usaha kerjasama antar pengusaha kecil (sistem informasi pemasaran). Kelima, iklim usaha yang kurang kondusif, karena persaingan yang saling mematikan. Keenam, pembinaan yang telah dilakukan masih kurang terpadu dan kurangnya kepercayaan serta kepedulian masyarakat terhadap usaha kecil.
  • Tantangan yang dihadapi UMKM dapat dibagi dalam dua kategori: Pertama, bagi usaha mikro dengan omset kurang dari Rp 300 juta setahun umumnya tantangan yang dihadapi adalah bagaimana menjaga kelangsungan hidup usahanya. Bagi mereka, umumnya asal dapat berjualan dengan “aman” sudah cukup. Kedua, bagi usaha kecil dengan omset antara Rp 300 juta hingga Rp 2,5 milyar, tantangan yang dihadapi jauh lebih kompleks. Umumnya mereka mulai memikirkan untuk melakukan ekspansi usaha lebih lanjut.
  • Permasalahannya adalah sebagai berikut: (1) Masalah belum dipunyainya sistem administrasi keuangan dan manajemen yang baik karena belum dipisahkannya kepemilikan dan pengelolaan perusahaan; (2) Masalah bagaimana menyusun proposal dan membuat studi kelayakan untuk memperoleh pinjaman baik dari bank maupun modal ventura karena kebanyakan UMKM mengeluh berbelitnya prosedur mendapatkan kredit, agunan tidak memenuhi syarat, dan tingkat bunga dinilai terlalu tinggi; (3) Masalah menyusun perencanaan bisnis karena persaingan dalam merebut pasar semakin ketat; (4) Masalah akses terhadap teknologi terutama bila pasar dikuasai oleh perusahaan/grup bisnis tertentu dan selera konsumen cepat berubah; (5) Masalah memperoleh bahan baku terutama karena adanya persaingan yang ketat dalam mendapatkan bahan baku, bahan baku berkulaitas rendah, dan tingginya harga bahan baku; (6) Masalah perbaikan kualitas barang dan efisiensi terutama bagi yang sudah menggarap pasar ekspor karena selera konsumen berubah cepat, pasar dikuasai perusahaan tertentu, dan banyak barang pengganti; (7) Masalah tenaga kerja karena sulit mendapatkan tenaga kerja yang terampil.
  • Tantangan UKM selama krisis: Pertama, tidak adanya pembagian tugas yang jelas antara bidang administrasi dan operasi. Kedua, akses industri kecil terhadap lembaga kredit formal rendah. Ketiga, sebagian besar usaha kecil ditandai dengan belum dipunyainya status badan hukum. Keempat, tren nilai ekspor menunjukkan betapa sangat berfluktuatif dan berubah-ubahnya komoditas ekspor Indonesia selama periode 1999-2006. Kelima, masalah terbesar yang dihadapi dalam pengadaan bahan baku adalah mahalnya harga, terbatasnya ketersediaan, dan jarak yang relatif jauh. Keenam, masalah utama yang dihadapi dalam memenuhi kebutuhan tenaga kerja adalah tidak terampil dan mahalnya biaya tenaga kerja. Ketujuh, dalam bidang pemasaran, masalahnya terkait dengan banyaknya pesaing yang bergerak dalam industri yang sama, relatif minimnya kemampuan bahasa asing sebagai suatu hambatan dalam melakukan negosiasi, dan penetrasi pasar di luar negeri.
  • Strategi pemberdayaan yang telah diupayakan selama ini dapat diklasifikasikan dalam beberapa aspek utama berikut ini:

1. Aspek managerial, yang meliputi: peningkatan produktivitas/omset/tingkat utilisasi/tingkat hunian, meningkatkan kemampuan pemasaran, dan pengembangan sumberdaya manusia.

2. Aspek permodalan, yang meliputi: bantuan modal (penyisihan 1-5% keuntungan BUMN dan kewajiban untuk menyalurkan kredit bagi usaha kecil minimum 20% dari portofolio kredit bank) dan kemudahan kredit (KUPEDES, KUK, KIK, KMKP, KCK, Kredit Mini/Midi, KKU).

3. Mengembangkan program kemitraan dengan besar usaha baik lewat sistem Bapak-Anak Angkat, PIR, keterkaitan hulu-hilir (forward linkage), keterkaitan hilir-hulu (backward linkage), modal ventura, ataupun subkontrak.

4. Pengembangan sentra industri kecil dalam suatu kawasan apakah berbentuk PIK (Pemukiman Industri Kecil), LIK (Lingkungan Industri Kecil), SUIK (Sarana Usaha Industri Kecil) yang didukung oleh UPT (Unit Pelayanan Teknis) dan TPI (Tenaga Penyuluh Industri).

5. Pembinaan untuk bidang usaha dan daerah tertentu lewat KUB (Kelompok Usaha Bersama), KOPINKRA (Koperasi Industri Kecil dan Kerajinan).

  • Strategi pemberdayaan UKM sudah banyak dilakukakan, namun upaya pembinaan usaha kecil sering tumpang tindih dan dilakukan sendiri-sendiri. Perbedaan persepsi mengenai usaha kecil ini pada gilirannya menyebabkan pembinaan usaha kecil masih terkotak-kotak atau sector oriented, di mana masing-masing instansi pembina menekankan pada sektor atau bidang binaannya sendiri-sendiri. Akibatnya terjadilah dua hal: (1) ketidakefektifan arah pembinaan; (2) tiadanya indikator keberhasilan yang seragam, karena masing-masing instansi pembina berupaya mengejar target dan sasaran sesuai dengan kriteria yang telah mereka tetapkan sendiri.
  • Pengembangan UKM kedepan. Pertama, pelaksanaan pembangunan untuk meningkatkan perekonomian rakyat dan pendapatan asli daerah lebih diutamakan (terfokus) pada sektor dan subsektor andalan, dengan tetap tidak mengesampingkan ekstensifikasi untuk menggali sektor/subsektor lain untuk dijadikan andalan. Kedua, untuk mengatasi kendala yang sering terjadi dalam perkembangan industri kecil, sebaiknya perlu ditingkatkan adanya penyuluhan atau pelatihan bagi para pengusaha ataupun pekerjanya, agar terjadi transfer teknologi dari teknologi yang lebih modern. Pelatihan tersebut diutamakan pada bidang yang sesuai dengan unit usaha yang menjadi andalan. Ketiga, perlunya pemerintah daerah mengupayakan pola kemitraan bagi industri kecil dan rumah tangga agar lebih mampu untuk berkembang. Keempat, UMKM hendaknya lebih mengutamakan bahan baku lokal atau sumber daya alam lokal untuk mengantisipasi dampak ketidakstabilan ekonomi.

Pendidikan Indonesia, Menuju Momentum Kebangkitan 2009 0

Apr29

Jika sekolah sekarang sudah gratis, mengapa masih banyak anak anak yang mengemis dan mengamen di jalan? Apakah kampanye departemen pendidikan itu hanya sekedar wacana di atas saja untuk memberikan resensi effect bahwa pemerintah telah bekerja sebelum pemilihan umum presiden juli 2009?

Mari kita lihat ke belakang. Belasan tahun mengenyam pendidikan di Indonesia ternyata belum banyak yang berubah. Banyak persolan serius yang tampaknya masih menunggu untuk ditanggapi dan diselesaikan. Rendahnya mutu pendidikan kita merupakan realitas tak terbantahkan. Rendahnya mutu sekolah contohnya, tampak dari rendahnya jumlah siswa yang lulus dari ujian akhir nasional (UAN) di samping rendahnya mutu lulusan yang hampir terjadi di semua jenjang pendidikan di negeri ini. UAN yang baru saja lewat beberapa waktu lalu jika kita menilik Peraturan Pemerintah Nomor 19/2005, UAN adalah indikator kelulusan di Indonesia. Namun banyak yang menilai UAN tak bermanfaat karena hanya mengkondisikan penyelewengan. Beberapa kasus seperti guru membiarkan anak didiknya mencontek, guru mengkoordinir siswanya agar saling bekerjasama dalam UAN, dan berbagai macam pelanggaran banyak sekali terjadi ketika UAN. Hal ini dilakukan semata mata agar anak didik lulus semua dan citra sekolah naik.

Rendahnya kualitas UAN pun banyak yang sangsi. Banyak juga siswa didik yang telah berhasil lolos dalam Ujian Masuk universitas terkemuka tetapi gagal dalam lulus UAN. Di sisi lain, jika dibandingkan dengan Negara tetangga kualitas pendidikan kita masih jauh tertinggal. Jangakan dari segi penguasaan teknologi informasi ataupun bentuk gedung dengan sarana dan prasarana yang lengkap. Di Indonesia, begitu passing grade dinaikan sedikit saja masih banyak juga yang tidak lulus dan protes pun timbul disana sini.

Selain dari rendahnya kualitas, sampai sekarang pun penilaian masih berorientasi hasil, bukan proses. Isinya hafalan, cara cepat membabat soal, dan “ilmu” yang ketika diingat malah makin membuat lupa tanpa penekanan soal pemikiran kritis dan pembentukan sikap mental yang positif. Fator faktor penting dalam pendidikan seperti kognitif, psikologis dan afektif banyak yang diabaikan.

Adalah sangat ironis jika dilihat. Indonesia dulu termasuk negara maju di segi pendidikan. Negeri Jiran saja sempat “mengimpor guru” dari Indonesia untuk menjadi tenaga pengajar. Hal itu membuktikan bahwa pendidik Indonesia pada saat itu benar-benar berkualitas.

Pendidikan Indonesia di kaca dunia

Menurut hasil survei World Competitiveness Year Book dari tahun 1997 sampai tahun 2007 pendidikan Indonesia berada dalam urutan sebagai berikut pada tahun 1997 dari 49 negara yang diteliti Indonesia berada di urutan 39. Pada tahun 1999, dari 47 negara yang disurvei Indonesia berada pada urutan 46. Tahun 2002 dari 49 negara Indonesia berada pada urutan 47 dan pada tahun 2007 dari 55 negara yang disurvei, Indonesia menempati urutan yang ke 53.

Yang menarik perlu dilihat adalah pendidikan di negara pembuat ponsel bermerek Nokia. Finlandia, negeri yang paling tidak korup ini dalam survei yang dilakukan Programme for International Student Assestment (PISA) ternyata berhasil mengalahkan 40 negara lainnya dari segi pendidikan. Bahkan, Finlandia tidak hanya pandai dalam mendidik anak-anak “normal,” tapi juga unggul dalam pendidikan bagi anak-anak yang lemah mental.

Finlandia memenangkan survei ini karena metode pendidikannya yang unik. Finlandia tidaklah mengenjot siswanya dengan menambah jam-jam belajar, memberi beban PR tambahan, menerapkan disiplin tentara, atau memborbardir siswa dengan berbagai tes. Sebaliknya, siswa di Finlandia mulai sekolah pada usia yang agak lambat dibandingkan dengan negara-negara lain, yaitu pada usia 7 tahun, dan jam sekolah mereka justru lebih sedikit, yaitu hanya 30 jam perminggu. Bandingkan dengan Korea,
ranking kedua setelah Finnlandia, yang siswanya menghabiskan 50 jam perminggu.

Kunci dari kesuksesan mereka terletak pada kualitas gurunya. Guru-guru Finlandia boleh dikata adalah guru-guru dengan kualitas terbaik dengan pelatihan terbaik pula. Profesi guru sendiri adalah profesi yang sangat dihargai, meski gaji mereka
tidaklah fantastis. Lulusan sekolah menengah terbaik biasanya justru mendaftar untuk dapat masuk di sekolah-sekolah pendidikan dan hanya 1 dari 7 pelamar yang bisa diterima, lebih ketat persaingainnya ketimbang masuk ke fakultas bergengsi lainnya seperti fakultas hukum dan kedokteran!. Di Negara ini remedial tidak dianggap sebagai kegagalan tapi untuk perbaikan. Orientasi dibuat untuk tujuan-tujuan yang harus dicapai. Penekanan ada di proses, bukan hasil. PR dan ujian tak musti dikerjakan dengan sempurna — yang penting murid menunjukkan adanya usaha. Ujian justru dipandang sebagai penghancur mental siswa.

Finlandia sukses menggabungkan kompetensi guru yang tinggi, kesabaran, toleransi dan komitmen pada keberhasilan melalui tanggung jawab pribadi. Di Finlandia, perbedaan antara murid berprestasi baik dan murid yang kurang sangatlah kecil. Kata seorang guru di Finlandia, “Kalau saya gagal dalam mengajar seorang murid, maka itu berarti ada yang tidak beres dengan pengajaran saya!”. Bandingkan dengan Negara kita, banyak yang bangga ketika ada anak didiknya yang tidak lulus.

Greg Mankiw dalam salah satu artikelnya pernah membahas mengenai pendidikan. Beliau mengatakan bahwa setiap tahun bertambahnya lulusan universitas di US akan menyumbangkan tambahan pendapatan 12,9 persen. Walaupun tentu saja pendidikan semata mata bukan untuk uang, akan tetapi jika tujuan hidup hanya untuk kaya, cara terbaik yang bisa kamu lakukan adalah dengan bersekolah. Bagaimana dengan Indonesia?

Indonesia adalah Negara besar dengan potensi yang sangat besar pula. Bila di asumsikan terdapat 1 persen dari jumlah warga negara adalah termasuk golongan jenius, maka seharusnya terdapat 2,2 juta orang berbakat di Indonesia. Namun bagaimana menemukan mereka, mengasah mereka, memberi mereka kesempatan, supaya mereka bisa mengembangkan potensinya. Indonesia bagus dalam berbagai bidang seperti fisika matematika dan biologi. Banyak berbagai prestasi yang telah ditorehkan sejumlah penerus bangsa. Seperti Farid seorang anak pedagang rokok yang berhasil menjuarai catur dunia. Priyadi yang memenangkan “Google India Code Jam Contest”. Deassy Novita yang menemukan ion motion control di elektrolit. Kesha pemenang olimpiade Fisika. Tim kalingga yang memenangkan world champion dalam business plan di Paris. Namun sangat disayangkan mengapa pemerintah masih belum mengambil banyak tindakan untuk segera menemukan anak berpotensi dan berbakat lainnya.

Hari pendidikan sebentar lagi. Apapun yang ada saat ini, Indonesia harus memiliki impian yang besar. Film Laskar pelangi yang begitu mengilhami banyak orang harusnya dijadikan pelajaran yang berarti bahwa potensi Negara ini begitu besar. Impian itu diharapkan memberi inspirasi, semangat dan secercah harapan dan kepercayaan untuk menjadikan Indonesia lebih baik dari saat ini. Akhirnya seperti kata pepatah, Jika ingin memegang suatu bangsa, peganglah pilarnya, yakni pendidikan. Jika ingin membuat bangsa kita selalu tumbuh, maka perhatikanlah pendidikannya.

Referensi: Depdiknas, Tulisannya Mas Nofieiman, dan berbagai sumber lainnya..