recently featured posts we've got 105 articles so far

Summary Buku: CASSAVA: Solusi Pemberagaman Kemandirian Pangan 0

Jul29

Pada akhir tahun 2008, kembali pemerintah menyatakan bahwa Indonesia ber-swasembada beras. Namun terbatasnya sumber daya alam sebagai basis produksi beras menjadi masalah saat ini. Problematika ketersediaan pangan semakin rawan apabila kita tidak tertarik untuk melakukan penganekaragaman sumber pangan dari bahan pangannya sendiri.

Adalah bisnis tepung terigu dapat menjadi lokomotif selain beras. Tepung telah terbukti menghasilkan kemampuan ekonomi yang mampu menggerakkan berbagai macam jenis usaha yang berbahan baku tepung. Memproduksi tepung terigu berarti memberdayakan ekonomi rakyat, karena itu sangat diperlukan usaha untuk menumbuh kembangkan aneka tepung seperti tepung cassava agar dapat menyerap banyak tenaga kerja.

Cassava bisa dikembangkan karena produk ini selain ada dimana mana juga memberikan banyak manfaat, diantaranya: mengandung banyak nutrisi, sumber pangan karbohidrat di suku jawa, sangat mudah dikembangkan dan dikenal baik oleh petani, ketersediaannya dalam skala nasional selalu meningkat setiap tahun, sebagai alternatif pengganti beras. Prospek dan peluang bisnis kasava dari kegiatan ekspor cukup besar karena pada tahun 2004 cassava telah mampu mengekspor ke17 negara di dunia dengan kuantitas 185 ton dan nilai ekspor 289.7 miliar. Hambatan utama dalam kegiatan ekspor ini adalah daya juang eksportir Indonesia yang demikian lamban dalam mencari konsumen baru.

Membangun industri pangan berbasis cassava yang memberikan ragam turunan produk olahan pangan membutuhkan tekad yang kuat. Tujuh propinsi sampai saat ini telah ditetapkan pemerintah sebagai sentra produksi cassava yaitu Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, NTT, dan Sulawesi Selatan. Untuk mendorong pengembangan tepung cassava perlu diciptakan stimulus utnuk menumbuh kembangkan tata boga aneka tepung. Disamping itu, diperlukan iklim yang kondusif dengan program aksi yang secara langsung mendorong perkembangan industri makanan berbahan baku tepung.

Terdapat tujuh kunci sukses agar industri pangan berbasis cassava berhasil dilaksanakan. Pertama, goodwill dan komitmen pemerintah, konsistensi dalam kebijakan diversifikasi pangan ada blue print serta dukungan budget. Kedua, pengindustrian tepung kasava ditetapkan sebagai salah satu program fokus. Ketiga, apikatif, terjaminnya ketersediaan bahan baku, kualitas tepung cassava dan kendali harga. Keempat, promosi intensif di media cetak dan audio visual serta dukungan proaktif kreasi ahli kuliner. Kelima jadikan habis makan makanan beragam dan bergizi seimbang. Keenam, jadikan membangun pemberagaman dan kemandirian pangan sebagai gerakan nasional. Ketujuh, mempunyai kompetensi untuk koordinasi, integrasi, sinkronisasi, dan simplikasi.

Kekayaan alam di tanah air ini harus disikapi dengan perubahan perubahan dari hal yang kecil. Generasi muda harus diperingkatkan harus berani menjadi bangsa yang mandiri dalam pangan. Diawali dengan mengikis persepsi yang menistakan diri makan makanan asal bangsa sendiri dan berhenti mengagungkan makanan berasal dari luar negeri.

UMKM Optimis terhadap Ekonomi Indonesia 2009 1

Jul5

Krisis finansial global yang berawal dari Amerika Serikat memang telah mengguncang sektor riil perekonomian indonesia. Namun sikap optimistis bahwa fundamental perekonomian kita masih cukup kuat untuk menyangga sektor riil harus kita pupuk, sehingga tidak akan terimbas lebih jauh oleh ancaman resesi global. Sikap proaktif perlu selalu dilakukan untuk menetralisir dampak krisis kepada sektor riil terutama UMKM. Jikalau kita ingat krisis 1997-1998 yang melanda Indonesia, saat itu perusahaan-perusahaan skala besar yang selama era Orde Baru di elok-elokkan sebagai champion untuk menggerakkan perekonomian di negeri ini akhirnya malah terpuruk. Namun para pengusaha yang mempunyai bisnis skala kecil dan menengah bersama koperasi justru tampil sebagai penyelamat ekonomi.

Kalangan UMKM ibarat patah tumbuh hilang berganti, selalu mampu bertahan, karena memang di tingkat ini tidak ada pilihan kecuali dengan cara bagaimanapun harus mampu bertahan. Apabila gagal untuk bertahan, mereka akan mati dalam arti sebenarnya. Itulah yang memicu timbulnya inovasi-inovasi kecil dalam bisnis mereka, sehingga kalangan UMKM bisa tetap eksis.

Di tengah kekhawatiran mengenai pandangan perekonomian, 80% UMKM Indonesia berencana untuk mempertahankan karyawannya dan bahkan 13% berencana meningkatkan jumlah karyawan. Hanya sebagian kecil UMKM, yakni kurang dari 10% yang berencana mengurangi jumlah karyawannya. Di level perdagangan regional Asia, 71% UMKM Indonesia masih percaya bahwa di tahun 2009 mereka masih dapat mempertahankan volume perdagangan mereka dan 21% percaya akan adanya peluang peningkatan volume. Dari segi modal UMKM Indonesia cenderung mempertahankan rencana belanja modal mereka, 50% UMKM tetap mempertahankan tingkat belanja modal mereka dan bahkan 24% UMKM berencana untuk meningkatkan belanja modal mereka di tahun 2009. Sikap ini sebenarnya menunjukan bahwa sebenarnya ada sebuah gairah dari pelaku UMKM untuk terus mengembangkan usahanya. Implikasinya yang jelas akan terjadi yaitu peningkatan kekuatan perekonomian dan perluasan lapangan kerja di Indonesia

Survei HSBC yang diadakan sampai kuartal IV 2008 itu melibatkan 3000 UMKM yang berada di 10 Negara dan teritori yaitu Hongkong, China, Taiwan, Bangladesh, Singapura, India, Vietnam, Korea, Malaysia dan Indonesia. Hasil survei menunjukkan bahwa Bangladesh, Vietnam, India dan Indonesia termasuk negara-negara yang paling optimis dalam memandang prospek perekonomian negara mereka pada tahun 2009.

Optimisme UMKM yang terjadi memang menjadi hal yang menggembirakan namun juga dapat secara jelas kita ketahui bahwa masih banyak pula masalah yang dihadapi oleh sektor UMKM di Indonesia. Karena itu agar pelaku UMKM dapat tumbuh dan berkembang dalam kemandirian,  perlu adanya penataan kebijakan yang berpihak pada sektor UMKM dengan mengevaluasi aspek-aspek yang menjadi penghambat perkembangannya, seperti aspek hukum, pembiayaan, input bahan baku, teknologi dan produksi, manajemen dan sumber daya manusia, serta promosi dan pemasaran.

Beberapa hambatan lain yang juga menyebabkan produk UMKM Indonesia kalah bersaing dengan produk UMKM negara lain adalah dari segi kemasan produk. Jika dibandingkan dengan produk UMKM di Jepang dan Korea yang sangat detail dalam membuat kemasan/packaging produk UMKM kita masih tertinggal. Dengan kemasan yang bagus dan sesuai standar, produk jadi tahan lama dan menarik untuk dilihat sehingga akhirnya produk bisa dijual dengan harga yang lebih tinggi.  Dari sebuah proses pengemasan yang baik terbentuklah suatu proses nilai tambah.  Beberapa handicraft yang terdapat di Candi Prambanan, Borobudur, Keraton Jogja, pantai pantai di Bali, Lombok dan sekitarnya masih perlu dibantu dan dibimbing dalam hal pengemasan produk (finishing touch). Harus dilakukan mapping (pemetaan) yang jelas terhadap UMKM di Indonesia mengenai standar pengemasan produk.

Maraknya kampanye pilihan legislatif dan pilihan presiden tahun ini adalah kesempatan para elit politik untuk mencari suara dengan janji-janji politiknya. Miris rasanya melihat gempuran para elit politik yang mengatakan ekonomi Indonesia sedang terpuruk, padahal sektor perdagangan, pariwisata, jasa dan sektor industri kreatif sedang menunjukkan geliatnya untuk tumbuh. Untunglah para pelaku UMKM membatahnya perkataan para elit politik itu dengan sikap optimis mereka tentang prospek usaha mereka tahun ini. Survei kecil kecilan yang saya lakukan terhadap pelaku UMKM pun mendukung sikap optimisme dari para pelaku UMKM. Pedagang handphone yang saya temui di wilayah Candi Prambanan mengatakan omsetnya naik 20% tahun ini, pedagang gudeg di Yogyakarta yang mengatakan bahwa tahun ini adalah omset terbaik mereka begitu juga dengan pedagang keramik di pasar Sukowati yang mengatakan omsetnya naik dan berharap tidak ada lagi peristiwa bom bali seperti dulu lagi. Meningkatnya sejumlah omset para pengusaha UMKM ini sangat wajar terjadi karena terjadi pertumbuhan wisatawan lokal yang terjadi pada tahun ini.

Karena itu, mari kita sambut sikap optimis mereka dengan menunjukkan sikap keberpihakan kepada UMKM diantaranya dengan penyediaan berbagai program yang tidak didedikasikan sebagai sunk cost, melainkan dengan target pertanggungjawaban yang mendidik dan transparan. Bagaimanapun, tidak ada satu negara yang sepenuhnya membebaskan diri dari keberpihakan sepanjang pemerintahan negara tersebut memiliki niat baik yang kuat untuk memperkokoh perekonomiannya. Terdapat tiga hal yang harus ditingkatkan untuk mendukung UMKM. Pertama, mempermudah UMKM untuk mengakses permodalan. Kedua, memperluas pasar. Ketiga, meningkatkan sumber daya manusia. Kebijakan pemerintah harus diupayakan mendorong ketiga hal tersebut. Jika semuanya selaras dan didukung oleh semua pihak, maka pertumbuhan UMKM sebesar 20%-25% tahun ini bukan mimpi lagi karena potensi pasar domestik kita siap menggantikan turunnya ekspor dan menurunnya sejumlah turis mancanegara.

Saya yakin lima tahun ke depan Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi dunia yang disegani. Kita mempunyai pasar domestik yang kuat, sumber daya manusia yang banyak, sumber daya alam yang melimpah. Kebijakan strategis yang perlu dilakukan untuk menjadikan ekonomi Indonesia menjadi terbesar di dunia adalah dengan mengubah mindset generasi muda untuk berwirausaha sehingga mampu membuka lapangan kerja dan menggerakan ekonomi.

Perusahaan Private Equity Menghadapi Krisis 0

Jun30

Terbelakangnya sektor keuangan, besarnya potensi pasar domestik yang menguasai 70% dari kegiatan ekonomi dan kesiapan pemerintah dalam mengantisipasi krisis adalah sejumlah faktor yang membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini positif dibandingkan Negara Negara lain di Asia. Terlebih lagi banyak perusahaan di Indonesia yang telah belajar dari krisis 1997/1998, sehingga krisis saat ini bukan masalah yang terlalu serius bagi sejumlah perusahaan swasta atau yang sering disebut Private Equity Firm (PEF). Banyak perusahaan swasta telah mengurangi rasio utang terhadap modal untuk menghindari kebangkrutan dari 44% pada tahun 2004 menjadi 13,7% pada tahun 2008. hal ini jika dibandingkan dengan perusahaan swasta di Malaysia (20.4%), Singapore (22.4%), Philippines (27.3%), and Thailand (41.8%) maka rasio Debt/Equity perusahaan di Indonesia masih lebih kecil. Namun tentu saja jika keadaan ekonomi masih buruk seperti saat ini, perusahaan dengan neraca keuangan yang bagus pun akan terkena masalah dan membutuhkan injeksi modal.

Hal in terbukti dari banyaknya PEF yang suffered akibat krisis financial saat ini. Banyak bank yang enggan dan hati hati untuk mengucurkan dananya pada perusahaan swasta yang tidak kredibel. Karena itu perusahaan swasta harus mampu mengelola cash flow dengan benar agar dapat survive ditengah krisis saat ini. Banyak cara bisa dilakukan, misalnya dengan:

Pertama, mengembangkan model bisnis dengan diversifikasi adalah langkah bijak yang perlu diambil perusahaan. Don’t put your eggs into one basket, harus mengilhami konsep sebuah bisnis agar mampu survive. Kedua, mempunyai greater accountability. Banyak kritik dilayangkan pada perusahaan swasta karena rendahnya transparansi dan akuntabilitas keuangan mereka terhadap investor dan lingkungan. Ketiga, Mengurangi risiko pajak yang mungkin terjadi. Perusahaan melakukan ekspansi global dan mencari kesempatan investasi baru selain untuk menciptakan peluang yang ada juga untuk mengurangi risiko pajak yang terjadi. Keempat, berpikirlah selalu jangka panjang dalam memutuskan sebuah masalah.

Untuk sebuah perusahaan private equity, krisis adalah peluang bagi mereka. Terutama pada para pengusaha yang bergerak industri yang mempunyai capital expenditure yang tinggi seperti tambang dan infrastruktur. Perusahaan tersebut dapat mencari celah sewaktu krisis. Mereka percaya pemerintah saat ini akan lebih menggenjot kegiatan ekonomi dalam negeri (belanja infrastruktur demi persiapan pasca krisis untuk menyambut investor dari luar).

Mengenal Risiko lebih dalam! Bagian I 0

Jun15

Setiap perbuatan yang kita lakukan pasti mengandung risiko didalamnya. Risiko memiliki konotasi negatif, hal yang harus dihindari, dan berusaha meminimalkan potensi terjadinya risiko. Risiko dalam bidang keuangan sering diidentikan sebagai hal yang meleset dari perkiraan. Dalam investasi saham misalnya, kita sering mengurangi risiko dengan melakukan diversifikasi atau portofolio atau dengan teorinya yang terkenal “don’t put your eggs into one basket”.

Sebelum membahas lebih jauh mengenai risiko dalam dunia keuangan, adalah lebih baik jika kita mengenali tipe tipe risiko terlebih dahulu. Risiko sangat beragam jenisnya, dari risiko kecelakaan, risiko kematian, risiko bangkrut, risiko kerugian, risiko terjadinya perubahan kurs, risiko terjadinya inflasi, risiko perubahan suku bunga, dan masih banyak lainnya. Namun secara garis besar risiko dapat dibedakan menjadi dua. risiko murni dan risiko spekulatif.

Risiko yang kemungkinan terjadinya ada, namun tidak memberikan keuntungan ketika tidak mengalaminya termasuk dalam risiko murni. Terjadinya kebanjiran, kecelakaan termasuk dalam kategori ini. Di Indonesia saat ini bermunculan industri asuransi yang membantu mengurangi risiko ini dengan imbalan sejumlah premi tiap tahun. Dibandingakan dengan beberapa Negara di Scandinavia pertumbuhan industri asuransi di Indonesia masih tergolong sangat rendah. Bahasan mengenai industri asuransi akan dibahas later on. Tidak pada bagian ini.. okay..

Risiko yang kedua adalah risiko spekulatif. Terdapat kerugian dan keuntungan dalam risiko ini. Berbisnis, berjudi, saham, forex, obligasi, tentu saja masuk dalam kategori ini. Risiko ini biasanya berbanding terbalik dengan orang lain dalam industri bisnis yang sama. Misalnya kita membuka bisnis usaha retoran. Kerugian penjualan yang kita alami mungkin saja membawa keuntungan bagi pengusaha restoran lainnya.

Yang perlu dipahami oleh semua individu tentang risiko adalah risiko itu datang kapan saja dan sulit dihindari. Karena itu banyak perusahaan yang mendatangkan konsultan hanya untuk meminimalkan risiko yang akan terjadi. Banyak sekali risiko yang terjadi dalam sebuah organisasi bisnis. Sebagaimana kita pahami dan sepakati, tujuan utama perusahaan pada dasarnya adalah untuk meningkatkan dan memaksimalkan kemakmuran pemilik perusahaan. Salah satu cara memaksimalkan kemakmuran share holder adalah dengan mengelola risiko dengan baik.

Risiko harus dikelola dengan baik karena kegagalan mengelola risiko menimbulkan banyak biaya yang akan muncul. Bayangkan suatu kejadian di mana sebuah perusahaan karet ban yang mengalami kebakaran salah satu pabriknya. Kerugian langsung dari peristiwa tersebut adalah kerugian finansial akibat aset yang terbakar. Namun lihat juga kerugian tidak langsungnya, seperti tidak bisa beroperasinya perusahaan selama beberapa bulan sehingga menghentikan arus kas. Akibat lainnya barangkali adalah macetnya pembayaran utang kepada kreditor dan suppliers karena terhentinya arus kas tadi yang akhirnya akan menurunkan kredibilitas dan hubungan baik perusahaan dengan para business partners tersebut. Nah, di sinilah pentingnya manajemen risiko. Manajemen risiko yang efektif dapat meminimumkan biaya risiko. Konkretnya, risiko yang dikelola dengan baik, seperti dengan asuransi dan hedging kontrak derivatif, dapat menjaga agar kinerja perusahaan terhindar dari faktor-faktor non-operasi seperti kerugian akibat risiko murni tadi.

Nah pertanyaan selanjutnya bagaimana mengelola risiko secara garis besarnya? Risiko bisa dikelola dengan berbagai cara, menghindar, ditahan (risk retention), dibuang, diminimalkan dengan diversifikasi atau dilimpahkan ke pihak lain.

Mengelola risiko dengan cara menghindar berari menghindari risiko dengan melakukan sebuah tindakan yang memunculkan terjadinya risiko tersebut. Contohnya jika anda takut gagal ketika mendirikan bisnis. Yaudah jadi karyawan aja.mudah kan?

Diversifikasi risiko ini paling terkenal ketika kita mengenal dunia investasi. Pasar saham misalnya. Banyak manajer investasi menggunakan diversifikasi assetnya untuk mengurangi kerugian. Seorang manajer akan mencari asset asset dalam industri yang berlawanan untuk mengurangi terjadinya risiko default. Biasanya terkenal dengan beta portofolio minus satu ( -1) maka seseorang telah menggunakan teori diversifikasi.

Nah skian dulu tentang pengenalan risiko manajemen pada bab selanjutnya akan dijelaskan lebih dalam bagaimana seluk beluk risiko itu. Bagaimana mereka mengelolanya mengatasinya.. menarik bukan?

* Didik Kurniawan Hadi

Book: Be Optimal “ Reach Real Succes in Life and Business” 0

Jun7

Buku ini mengajak kita memberdayakan diri dan meningkatkan kompetensi baik dalam individu maupun organisasi. Seorang manusia memiliki empat dimensi fisik, akal (pikiran), hati dan nurani. Keempat dimensi tersebut saling mempengaruhi. Keempat dimensi manusia itu perlu dikenali kebutuhannya karena itulah yang memberikan kemampuan untuk membentuk hidup dan mencapai kinerja puncak. Kita harus bisa menjaga kondisi emosi tubuh kita karena itu akan berefek terhadap kesehatan tubuh kita. Otak memegang peran yang sangat vital dalam mengkoordinasi bagian tubuh kita yang bertujuan menentukan kondisi fisik, sikap dan hidup kita.

Individu atau organisasi memerlukan arah dalam perjalanan kehidupan. Begitu pula keseimbangan antara keberlimpahan dan keterbatasan yang perlu diketahui oleh individu agar dia mengetahui di posisi mana dia sekarang, sehingga dia tau bagaimana menuju tingkat keberlimpahan.

Setiap orang di dalam perusahaan itu mempunyai peta pribadi akan tujuan yang ingin dicapainya. Buku ini mengajak kita masuk dalam kesadaran akan persepsi kita, peta yang kita gambar secara pribadi. Otak terkadang membentuk peta yang salah, peta yang salah membawa ke arah yang salah. Persepsi yang salah membawa reaksi yang salah. Hal ini sama saja ketika kita memulai suatu usaha. Kita akan memulainya dengan membuat peta. Karena itu berhati hati dan yakinlah ketika menentukan sebuah persepsi. Pertimbangkan semua aspek yang ada sehingga dalam prosesnya otak akan menggambar peta yang jelas dan benar.

Untuk mencapai tujuan organisasi yang telah direncanakan, individu-individu di dalamnya harus merupakan sebuah tim dayung yang handal yang bekerja keras dan cerdas agar tujuan organisasi tercapai. Salah satu caranya bisa menggunakan value based management. Kita dapat menilai bagaimana strategi yang telah kita pilih berpengaruh pada kekayaan perusahaan. Kita dapat mengukur hasil yang dicapai dalam pelaksanaan secara berkala. Balance scorecards melengkapi manajemen nilai perusahaan dalam memetakan, menurunkan, dan mengkomunikasikan strategi. Selain strategi, komunikasi adalah hal yang sangat vital dalam sebuah organisasi.

Buku ini mengajak individu untuk mengaktualisasikan diri dan hidup sepenuhnya dan mengajak perusahaan untuk memaksimalkan potensi orang orang yang bekerja dan terlibat dalam perusahaan yang merangkap tempat bagi pengembangan seluruh dimensi manusiawi karyawan perusahaan.

*Oleh: Melani K. Harrisman