Category Economic

Plugging Ideas into Business: Creating Innovative Industries 0

Apr27

Peringkat kemudahan berbisnis di Indonesia melorot dua posisi, dari 127 menjadi 129. Dalam laporan Doing Business 2009 yang meneliti 181 negara, posisi Indonesia masih jauh dari negara tetangga, seperti Thailand yang berada di peringkat 13, Malaysia (20), dan Vietnam (92). Singapura masih menempati urutan teratas, yang merupakan prestasi dalam tiga tahun berturut-turut.Upaya perbaikan iklim investasi di Indonesia, masih kalah cepat dibandingkan reformasi di negara lain. Inilah yang menyebabkan peringkat kemudahan berbisnis Indonesia menurun. Dari sepuluh ukuran kemudahan berbisnis, peringkat cukup baik dicapai Indonesia pada indikator melakukan transaksi tanpa batas (trading across borders) di posisi 37. Indikator lain yang cukup baik adalah melindungi investor (protecting investor) pada posisi 53.

Think out box,berpikir bahwa selalu ada peluang ditengah krisis. Mungkin itulah ide pertama munculnya banyak industri kreatif seperti saat ini. Industri kreatif adalah salah satu industri yang mampu bertahan ketika krisis moneter terjadi tahun 97-98. Kita lihat saja misalnya Di Bandung, pada saat krisis ekonomi tahun 1998, hanya ada belasan distro tetapi sekarang jumlah distro di Bandung mencapai 400-an. Industri kreatif akan menjadi industri yang menguntungkan di masa depan seiring dengan perubahan selera pasar. Populasi Indonesia yang berusia 15-29 tahun sebanyak 40,2 juta atau 18,4 persen merupakan pasar yang sangat gemuk bagi industri kreatif. Salah satu negara yang paling terkenal dengan industri kreatifnya adalah Inggris. Saat ini industri kreatif di negara ini menyumbang 8,2 persen penerimaan nasionalnya. Target pemerintah Indonesia pada 2015 adalah membuat kontribusi sektor Industri kreatif sebesar 9-11 persen. Apabila hal ini benar terlaksana, maka ekonomi kita akan semakin kuat terhadap gejolak eksternal yang akan terjadi.

Meski Pemerintah begitu gencar dalam menggelontorkan program pengembangan industri kreatif ini namun patut dibeliaungkan dalam hal pengimplementasian, nampaknya masih menemukan beberapa hambatan yang patut diperhatikan. Diantaranya, kurangnya jumlah dan kualitas sumber daya manusia. Masalah kedua adalah pengembangan iklim kondusif untuk memulai dan menjalankan usaha industri kreatif yang meliputi sistem administrasi negara, kebijakan dan peraturan serta infrastruktur yang diharapkan dapat dibuat kondusif bagi perkembangan industri kreatif. Masalah ketiga, mengenai penghargaan terhadap pelaku industri kreatif baik secara finansial maupun nonfinansial. Masalah lain yang teridentifikasi adalah upaya percepatan tumbuhnya teknologi informasi dan komunikasi yang terkait erat dengan pengembangan akses pasar dan inovasi dalam industri kreatif.

Sektor swasta dilihat sebagai motor penggerak dari pertumbuhan ekonomi untuk membantu dalam meningkatkan pendapatan nasional. Sektor swasta Pada tingkat global harus dapat membantu pemerintah untuk mengembangkan iklim ekonomi internasional dan membantu untuk menciptakaan level playing fields (kebebasan perdagangan, menghilangkan hambatan, mendorong investasi luar negeri, pembayaran hutang dan kebijakan pendukung); Membantu dalam menciptakan iklim investasi yang lebih baik di Indonesia melalui kerangka kerja yang jelas dan transparan untuk melakukan bisnis, menjaga stabilitas makro ekonomi. Dengan cara seperti ini beliau berharap ekonomi Indonesia akan merata sampai ke daerah daerah terpencil.

Ingatlah kata kata Ketaki Bhave salah satu CEO di Microsoft. “Some people see things and ask Why? I dream things which never were and ask Why not?”, yang artinya Beberapa orang melihat sesuatu dan bertanya mengapa, dan beliau bermimpi untuk selalu berkata mengapa tidak??. Kita tahu industri ini membutuhkan sumber daya yang kreatif. Kalau mereka aja para pengusaha industri kreatif yang saat ini sukses kebanyakan berasal dari lulusan universitas jatuh bangun, fakultas berani belajar dari kegagalan, dengan jurusan tidak pantang menyerah, dan bidang studi selalu ingin maju. Lalu kenapa kita tidak?

Indonesia 2009 – Stimulasi apakah yang harus diberikan?* 3

Feb3

Indonesia terkenal sebagai Negara yang mempunyai pasar domestic yang besar dan secara relatif tidak terlalu tergantung pada kegiatan ekspor yang terjadi. Namun walau demikian bukan berarti Negara ini juga tidak terimbas krisis financial global kemarin. Bukti dari terkena imbas ini adalah dilakukannya revisi pertumbuhan pada tahun 2009 dan meluncurkan paket stimulus untuk mengurangi perlambatan ekonomi yang akan terjadi.

Selama bulan januari pemerintah telah memberikan paket stimulus ekonomi dengan melakukan injeksi sebesar $6.31Milliar pada berbagai sektor yang diperkirakan terganggu aktivitasnya. Jika dibandingkan dengan GDP Negara, maka injeksi yang dilakukan pemerintah Indonesia sedikit lebih besar dibandingkan pemerintah US. Injeksi yang dilakukan pemerintahan yudhoyono ini sebesar 1,4% dari total GDP, sedangkan injeksi di US yang sebesar $819 Milliar sebenarnya hanya 1,2% dari GDP mereka. Paket stimulus ini diharapkan dapat membantu menstimulasi pemerintah Indonesia untuk menjaga pertumbuhan ekonomi 2009 sebesar 4,5 – 5,5%.

Stimulus sebanyak US$ 6.4 milliar ini akan dialokasikan pada infrastruktur sebanyak US$ 1,02 milliar. Secara personal saya sangat mendukung alokasi untuk infrastruktur ini, karena sedikitnya investasi yang terjadi di Indonesia salah satunya diakibatkan buruknya infrastruktur di negeri ini. Jika dibandingkan dengan China misalnya, pada tahun 1995, China dan Indonesia sama sama mempunyai infrastruktur jalan raya sepanjang 500km. Namun kini China telah memiliki infrastruktur 5500km, sedangkan Indonesia hanya 700km. Karena itu sangatlah wajar jika China saat ini menjadi negara dengan kapasitas tinggi yang mempunyai cadangan devisa sangat besar.

Dari sisi ketenagakerjaan, krisis ini memberi dampak negatif terhadap tenaga kerja di Indonesia, terutama perusahaan-perusahaan yang berorientasi ekspor. Asosiasi Pekerja Indonesia memperkirakan bahwa dalam pertengahan tahun 2009, perusahaan industri akan memperhentikan karyawan hingga 500 ribu orang. Laporan dari Oxford Business Group juga mengatakan bahwa orang orang di Indonesia yang bekerja di luar negeri seperti di Hongkong, Malaysia, Singapura, Thailand, Filiphina, yang biasanya memberikan pendapatan US$ 6 Milliar pada tahun 2007 diperkirakan akan turun menjadi US$ 3 triliun pada tahun 2009.

Saat ini berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik pengangguran di Indonesia sebanyak 8.4% atau sekitar 9.4 juta orang. BPS memperkirakan bahwa 2,5 juta orang setiap tahunnya adalah tenaga kerja baru. Asumsi didasarkan pada kenaikan 1% pada PDB dapat menyerap 400ribu tenaga kerja baru. Kebijakan stimulasi pemerintah pada 2009 ini diharapkan dapat mengurangi tingkat pengangguran yang terjadi dengan menambah 700ribu sampai 1juta perkerja baru pada tahun ini.

Sebenarnya jumlah penduduk yang banyak ini menjadi keutungan bagi indonesia. Pemerintah harus mendorong seluruh rakyatnya untuk mencintai dan mengkonsumsi produk dalam negeri. Karena dengan cara ini penyerapan tenaga kerja dan pertumbuhan konsumsi akan tumbuh bareng secara proporsional. Jika ini benar bisa terjadi maka resilience ekonomi Indonesia akan jauh lebih kuat dari negara manapun yang mengandalkan impor dan ekspor mereka ketika krisis terjadi.

Kebijakan stimulus yang telah dilakukan pemerintah digabungkan dengan penurunan BI rate menjadi 8.25% (per Februari 2009) diharapkan dapat membantu pertumbuhan sektor riil dan pada akhirnya akan membantu dalam penyerapan tenaga kerja. Semoga pemilu yang terjadi sebentar lagi tidak menyurutkan semua aparatur negara untuk selalu mengutamakan nasib rakyat banyak. Wallahualam Bishowab..

* Didik Kurniawan Hadi

Bagaimana Menghitung Sebuah Basic Lending Rate (BLR)??* 2

Jan27

Saat ini Perang bunga deposito masih berkobar. Kendati Bank Indonesia (BI) sudah dua kali memangkas suku bunga acuan (BI rate), namun para bankir masih menawarkan bunga tinggi, terutama untuk nasabah yang berkantong tebal. Logikanya, jika bunga acuan turun, bunga simpanan di bank juga merosot. Kenyataannya, BI telah dua kali menurunkan BI rate sejak Desember 2008. Tetapi, para bankir masih mengerek bunga simpanan tinggi-tinggi. Banyak bank, baik lokal maupun asing menawarkan bunga deposito sebulan hingga 14%. Bunga itu jauh di atas bunga wajar untuk deposito sebulan sesuai patokan Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS), yaitu 10%. Saya tidak akan menjelaskan panjang lebar mengenai ini karena pihak perbankan pasti punya alasan mengapa belum bisa menurunkan lending ratenya. saya akan lebih menjelaskan bagaimana cara menghitung sebuat BLR atau Suku Bunga Pinjaman (SBP) itu?

Dalam menghitung BLR, sebuah bank memperhatikan faktor-faktor berikut:

  1. % rata2 suku bunga dari dana pihak III (tabungan, deposito, giro) dan sumber dana lain + biaya reserve requirement (jumlah dana yang wajib ditaruh bank di BI dan tidak ada bunganya, karena itu ada biaya bunganya). faktor ini biasanya disebut marginal cost of fund.
  2. % dari biaya overhead bank terhadap total dana pihak III dan sumber dana lainnya.
  3. % dari marginal tax rate (tax biasanya 30%) ketiga persentase di atas akan ditambahkan sesuatu yang namanya target interest revenue (target keuntungan) yang ditentukan oleh management bank.

Selisih antara bunga kredit dengan bunga deposito sering kita artikan sebagai interest spread saat ini berkisar diantara 5-8%. Begitu juga dengan overhead cost (biaya untuk mengolah transaksi) bank yang umumnya berkisar antara 3-5%, margin tax sekitar 1%, ditambah lagi dengan target interest revenue bank sekitar 1-2%.

Setelah keluar angka BLR, maka itu adalah minimal tingkat suku bunga pinjaman yang berlaku di bank tersebut. Unit2 bank yang melepas kredit menilai lagi kelayakan nasabah kalau nasabah yang dianggap beresiko tinggi, biasanya dikasih bunga lebih tinggi lagi dengan patokan misalnya BLR + % margin resiko. Margin resiko ini misalnya 1% atau 2%. Bunga tersebut berfluktuasi sesuai BLR.

Tinggi rendahnya suku bunga selain dari spread itu juga sangat tergantung pada tipe bank dan sumber pembiayaannya. Kalau BPD, BPR dan Bank Pasar, seringkali mereka mendapat pembiayaan/pinjaman dari secondary market, dari bank2 pemerintah dan swasta yang lebih besar yang sudah mengambil untung. Disamping itu mereka juga umumnya menawarkan tingkat suku bunga simpanan yang lebih tinggi sehingga orang tertarik tidak semuanya ke bank-bank kelas nasional.

Dengan sumber pembiayaan yang lebih mahal – normalnya suku bunga pinjaman mereka umumnya lebih mahal 2%-3% dari suku bunga kredit komersial perbankan nasional. Perkecualiannya jika mereka dapat dana murah dari BI atau lembaga-lembaga asing untuk menyalurkan kredit mikro.

Apakah FACEBOOK membiayai perang di GAZA?? 13

Jan19

Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (AtTaubah:122)

FACEBOOK membiayai perang di GAZA

Fenomena facebook begitu gempar di Indonesia, sampai-sampai ada
facebook dalam bahasa indonesia. Saya heran bukan main, satu per satu
teman saya mendaftar di facebook. Tidak heran kalau di tahun 2008
facebook meraup keuntungan 300 juta dollar amerika karena lebih dari
140 juta user aktif di seluruh dunia dan 8,5 juta foto dimuat tiap
harinya. Bagi yang belum tahu apa itu facebook bisa baca artikel ini.
Facebook memberikan banyak kemudahan bagi kita, dari mulai menjalin
relasi sampai cari uang dari facebook, baca juga artikel ini dan
artikel ini. Tapi keuntungan yang sebanyak itu digunakan
untukmembiayai perang di Gaza. Benarkah?

Awalnya saya juga tidak sengaja reseach tentang facebook. Dari awal
saya sangat tidak setuju dengan adanya agresi Israel di Gaza. Untuk
membantu warga Gaza, saya hanya bisa berdoa dan berniat untuk
memboikot produk-produk Israel. Dari artikel yang saya publish
beberapa waktu lalu tentang pemboikotan produk-produk Amerika, ada
komentar yang mengatakan bahwa facebook dan wordpress adalah milik
amerika dan menyarankan untuk tidak memakainya lagi. Dari sini awal
mulanya saya melakukan reseach tentang facebook dan wordpress.

Fakta – fakta :

1. Facebook adalah milik Mark Zuckerberg, jika kita membaca artikel
Mark Zuckerberg dalam bahasa indonesia tidak diketahui secara lengkap
siapakah dia. Kalau kita membaca artikel tentang Mark Zuckerberg dalam
bahasa inggris terdapat lengkap data diri si pembuat facebook ini.

2. Siapakah sebenarnya si pendiri sekaligus CEO facebook ini? Dia
adalah mahasiswa harvard university dan aktif sebagai anggota Alpha
Epsilon Pi. What is Alpha Epsilon Pi? baca artikel ini.

3. Alpha Epsilon Pi adalah seperti perkumpulan mahasiswa yahudi di
amerika utara, yang mempunyai misi sebagai berikut,

Alpha Epsilon Pi, the Jewish Fraternity of North America, was founded
to provide opportunities for Jewish men seeking the best possible
college and fraternity experience. We have maintained the integrity of
our purpose by strengthening our ties to the Jewish community and
serving as a link between high school and career. Alpha Epsilon Pi
develops leadership for the North American Jewish community at a
critical time in a young man’s life. Alpha Epsilon Pi’s role is to
encourage the Jewish student to remain dedicated to Jewish ideals,
values, and ethics and to prepare the student to be one of tomorrow’s
leaders so that he may help himself, his family, his community, and
his people.

Yang intinya adalah sebagai tempat pengkaderan dan tempat mencari
pemimpin baru bagi kaumnya, yaitu Yahudi.

4. Fakta ke-empat sampai artikel ini ditulis serangan Israel di Gaza
telah menewaskan lebih dari 600 palestinians.

5. Facebook mendapatkan keuntungan dari iklan yang dipasang, semakin
banyak user dan pengunjung facebook senakin banyak pula penghasilnya.

Next research :
-Apakah hubungan Yahudi dengan Israel?
-Apakah benar sebagian pendapatan Mark Zuckerberg di sumbangkan untuk
Alpha Epsilon Pi?
-Apakah Alpha Epsilon Pi berhubungan dengan pemerintah Israel?

Link :
- How To Delete Facebook Account?
- Daftar Produk AS yang diboikot oleh Para Ulama

Referensi :
- http://www.wikipedia.org
- http://www.infopalestina.com
- http://www.aljazeera.net/english
- http://amirkovic.wordpress.com

sumber : http://www.kamusmalesbanget.com/foru. ..perang- di-Gaza

Diambil dari blog ini http://amirkovic.wordpress.com/2009/01/09/facebook-membiayai-perang-di-gaza/

**************

Facebook dan Saya

Di atas adalah sedikit tulisan yang membuka mata saya tentang Facebook, yang setiap hari saya login dan log out untuk sekedar berhibur, menyapa teman-teman (yang kini jumlahnya banyak sekali).

Sebelumnya saya sudah rada tidak sreg dengan Facebook karena di sana banyak kampanye (atau iklan) tentang lesbian, homo, forum forum yang mendeskreditkan Islam, dll. Tetapi populasi facebook meningkat tajam di kalangan teman-teman saya (SMA maupun IIUM) sehingga saya masih saja memelihara akun FB itu. Namun, setelah tabayyun atau cross check ke sumber terkait, sepertinya artikel pembuka di atas bukan isapan jempol belaka.

Berikut ini fakta yang memperkuat bahwa Facebook adalah salah satu pendonor bom-bom dan roket (dalam bentuk uang) untuk menghabisi rakyat Palestina.

TENTANG PENDIRI FACEBOOK

At Harvard, Zuckerberg was also a member of Alpha Epsilon Pi, a Jewish college fraternity. http://en.wikipedia.org/wiki/Mark_Zuckerberg.

Lebih jauh tentang sosok ini bisa baca di sini http://www.tentangrifai.com/2008/08/mark-zuckerberg-menjadi-triliuner-muda-berkat-situs-internet-facebook/

Dan apakah Alpha Epsilon Pi itu?

Alpha Epsilon Pi, the Jewish Fraternity of North America, was founded to provide opportunities for a Jewish man seeking the best possible college and fraternity experience. We have maintained the integrity of our purpose by strengthening our ties to the Jewish community and serving as a link between high school and career. Alpha Epsilon Pi develops leadership for the North American Jewish community at a critical time in a young man’s life.

http://www.aepi.org/site/pp.asp?c=geJQIUOwErH&b=2116949

http://en.wikipedia.org/wiki/Alpha_Epsilon_P

Dan hubungannya dengan Zuckerberg?

Bisa dilihat di situs ini http://www.aepi.org/site/pp.asp?c=geJQIUOwErH&b=2117027 bahwa Zuckerberg adalah salah satu alumninya (tentu alumni yang berpengaruh di sana).

Lebih jauh lagi beberapa artikel keterkaitan antara facebook dengan gerakan zionis internasional:

Since Facebook is Jewish owned and operated, Peres says it is an ideal tool to silence criticism of Israel, and to spread holo-hoax propaganda. http://www.wakeupfromyourslumber.com/node/5510

Seperti juga Google, Facebook memiliki andil besar dalam memanfaatkan teknologi untuk kepentingan dunia Israel. Seperti yang dimuar di situs ini http://www.haaretz.com/hasen/spages/970667.html

Co-founder of internet giant Google, Sergey Brin, will join Facebook founder Mark Zuckerberg, and Yahoo president Susan Decker at a presidential panel on technology to be held at the Jerusalem International Convention Center May 13-15.

The convention, which was formed at the initiative of President Shimon Peres, will also be attended by a number of Israeli political, religious and financial leaders, as well as academics and cultural figures.

http://www.haaretz.com/hasen/spages/970667.html

http://www.haaretz.com/hasen/spages/973445.html (di situ tertera juga nama Abdurrahman Wahid, nah loooh)

Dan inilah yang menegaskan kembali bahwa Facebook adalah penyokong Israel baik dalam segi pendanaan maupun dalam segi teknologi. http://www.mediapost.com/publications/?fa=Articles.showArticleHomePage&art_aid=97567

Leyden, which owns the Israel News Agency, said his Facebook page pledges support for brave men and women in the Israel Defense Forces who by air, water and ground protect Israel’s democracy and sovereign borders. The site’s friend count quickly climbed from 3,232 members on Dec. 28 at 9 P.M. EST to nearly 17,000 members on midday on Dec. 30. A link to a video on Google’s YouTube also provides insight as to why the Israel Defense Forces confront Islamic terrorists in Gaza.

It’s not “hasbara,” which means “to explain or PR spin,” Leyden said. “It’s about using social media and SEO to get the facts out. Israel lacks professional manpower and the budget. We put the money into weapons to defend ourselves, but public opinion has an influence on many lives.”

PARAHNYA Facebook juga bertanggungjawab atas isu-isu pro Israel dan anti Islam:

http://globalvoicesonline.org/2009/01/05/is-facebook-censoring-information-on-israel-and-palestine/

While JIDF believes that “Jew hatred and promotion of Islamic terrorism” remains on Facebook, it seems that supporters of Palestine and Gaza are finding their content censored as well. Rebelliousgirl expressed on Twitter that Facebook has prevented her from using hashtags: (see the pict at that site pelase)

Dan beginilah cara menghapus account Facebook Anda, oiya jangan lupa menyebarkan artikel di atas (kirim artikel ini ke teman-teman Anda di FB,atau di media manapun yang Anda miliki) agar banyak orang mengikuti jejak anda. Kalau bukan Anda yang member contoh, lalu siapa lagi?

Menghapus Akun Facebook

(http://itguidelines.blogspot.com/2008/12/how-to-delete-your-facebook-account.html)

1. Buka akun Anda di facebook, login.

2. Klik setting di kanan atas jendela Facebook dan pilih Account Setting

3. Kemudian muncul jendela baru dan pilih Deactivate Account-deactivate

4. Pilih salah satu alasan Anda mengapa Anda menghapus akun tersebut

5. Isilah halaman tersebut dan masukkan sekuriti kodenya

6. Kalau Anda sudah menemukan pesan ini “Your facebook account has been deactivated” dari tim facebook maka akun anda BERHASIL di hapus.

InsyaAllah saya akan menghapus akun FB saya pada Jumat 16 Februari 2009.

Ana Uswatun K.

Kulliyyah of ICT

International Islamic University Malaysia

Memaknai Krisis Subprime di AS dan Eropa 0

Jan14

Berdasarkan data Bloomberg, jatuhnya pasar kredit global yang sebagian besar disebabkan oleh krisis kredit perumahan subprime di Amerika Serikat telah mengakibatkan kerugian US$ 319 miliar pada industri perbankan global. Sementara penghapusan piutang kredit diprediksi masih akan terus terjadi, data tersebut membuktikan bagaimana krisis yang terjadi akan memaksa bank-bank terkemuka di dunia – beberapa juga hadir di Indonesia – untuk mengubah pola bisnisnya. Walaupun dampak langsung dari krisis subprime ke pasar keuangan dan perekonomian Indonesia cukup teratasi, banyak yang dapat kita pelajari dari pengalaman pahit bank-bank asing terkemuka yang relevan untuk segera diterapkan di Indonesia.

Citigroup merupakan bank dengan kerugian terbesar sejak krisis mulai yang penurunan nilai hutangnya mencapai US$40,9 miliar serta mengakibatkan pengunduran diri Chief Executive Citigroup Chuck Prince. Nasib yang sama juga dialami Merryl Lynch. Penurunan nilai hutang senilai US$31,7 miliar juga mengakibatkan pengunduran diri Chief Executive-nya, Stan O’Neal.

Dapat dipastkan bahwa mereka yang paling banyak mengalami kerugian akan menghadapi tantangan yang paling berat untuk melakukan perubahan. Sebagai contoh, investor Citigroup menuntut institusi tersebut untuk memecah operasinya menjadi beberapa bagian.

Beberapa institusi bahkan telah memulai perubahan besar. Bank of America (BoA) yang juga mengalami kerugian signifikan akibat krisis sub-pime, telah melakukan pemotongan jumlah karyawan lebih dari 1.500 orang dari berbagai unit bisnisnya. BoA juga mengumumkan penjualan bisnis prime brokerage dan Collateralized Debt Obligation (CDO). Sementara, Bear Stearns sampai hampir harus gulung tikar dan sahamnya akhirnya diakuisisi oleh JP Morgan senilai US$10 per saham atau total US$1,2 miliar. Hal itupun dilakukan JP Morgan setelah US Federal Reserve memutuskan untuk membiayai aset Bear yang masih ada di pasar senilai US$29 miliar. Bangkrutnya Bear Stearns sangat ironis dan mengenaskan mengingat saham Bear Stearns masih diperdagangkan di level tertinggi pada Januari tahun lalu yaitu senilai US$169. Majalah Fortune beberapa minggu yang lalu mengupas jatuhnya Bear Stearns bagaikan sebuah novel yang menyedihkan dimana perusahaan yang selama ini dikenal sebagai salah satu yang terbesar dan terkemuka harus gulung tikar hanya dalam hitungan minggu atau bahkan hari.

Sementara, hal berbeda terjadi pada Goldman Sachs dimana pendapatan bersihnya (net revenue) meningkat di tahun 2007 dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Goldman Sach tampaknya berhasil menghindari dan mengatasi krisis.

Agak berbeda dengan Amerika, hal sebaliknya terjadi pada sektor perbankan Eropa. Model bisnis mereka yang konservatif telah menyelamatkan bank-bank Eropa ini dan berhasil mencetak pertumbuhan dalam beberapa tahun belakangan ini.

Deutsche Bank, salah satu bank terbesar di Eropa, melaporkan peningkatan laba sebesar 7% di tahun 2007 dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Ini merupakan salah satu bukti keberhasilan dalam menghindari krisis. Meskipun Deutsche Bank melaporkan kerugian bersih (net loss) senilai EUR 141 juta pada kuartal pertama 2008 minggu lalu sebagai akibat dari penurunan nilai hutang berisiko tinggi (write-downs on leveraged loans) dan turunnya kondisi pasar secara umum, Deutsche Bank dapat dikatakan berhasil mengatasi dan mengantisipasi akibat krisis lebih baik dibandingkan dengan institusi keuangan tingkat dunia lainnya.

Contoh institusi Eropa lainnya yang berhasil melewati krisis adalah Credit Suisse. Meskipun begitu, hal ironis terjadi pada institusi ini; mereka mengumumkan pengurangan nilai aktiva sebesar US$2,85 miliar seminggu setelah melaporkan kinerja kuartal keempat yang menggembirakan. Walhasil, kinerja kuartal pertama 2008 Credit Suisse mengalami kerugian sebesar US$2 miliar.

Tidak demikian halnya dengan UBS, yang akan melaporkan pendapatan kuartal pertama 2008 pada 6 Mei mendatang. Institusi ini telah menurunkan nilai aktivanya senilai US$38 miliar sejak krisis berlangsung. Penghapusan kredit ini merupakan yang terbesar dibandingkan dengan bank-bank Eropa lainnya dan merupakan yang terbesar kedua di dunia sesudah Citigroup. Lebih dari itu, krisis ini juga telah menyebabkan Chief Executive UBS Peter Wuffli dan Chairman UBS Marcel Ospel mengundurkan diri. Serupa dengan Citigroup, pasar menuntut UBS untuk melakukan perubahan signifikan. UBS dituntut untuk punya visi yang lebih jelas terutama berkaitan dengan pemisahan antara bisnis investment bank dan wealth management. Bos UBS yang baru Marcel Rohner mengatakan kepada para investor dalam RUPS 23 April lalu, ”Kami tidak lagi bertujuan menawarkan segala sesuatu kepada semua orang dalam bidang investment banking. Kami tidak boleh lagi melakukan konsentrasi risiko yang tidak perlu. Modal yang dibutuhkan bagi investment bank untuk tumbuh di masa depan harus dikumpulkan dari bisnis masing-masing unit”.

Untuk memperkuat neraca keuangannya, menurut Bloomberg, UBS terpaksa menyuntikan dana segar senilai US$26,9 miliar sejak tahun lalu. Marcel Rohner menyampaikan kepada investor dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) bahwa ia akan melanjutkan pemutusan hubungan kerja (PHK) dari total 1.500 karyawan yang telah dilakukan sejak krisis berlangsung. Pemotongan jumlah karyawan ini sangat diharapkan dapat memperkuat bisnis investment banking, sesuai dengan pernyataan Chairman UBS Peter Kurer untuk menjadikan wealth management sebagai fokus utama dari bisnis UBS.

Tahun 2008 akan menjadi tahun perubahan signifikan di industri perbankan global. Bagi beberapa bank, tingkat perubahan yang dibutuhkan akan bergantung pada kuatnya ketahanan mereka dalam menghadapi krisis.

Walaupun krisis sub-prime di AS tidak berdampak langsung dan jika ada juga tidak terlalu signifikan terhadap pasar keuangan di Indonesia, banyak yang dapat dipelajari dan dimanfaatkan oleh industri perbankan nasional.

Hal pertama yang dapat diplejarai adalah pentingnya kejujuran dalam keterbukaan. Ini selalu menjadi modal utama dalam bisnis apapun dalam keadaan apapun. Krisis subprime yang seyogyanya adalah krisis kredit perumahan berubah menjadi krisis kepercayaan antar institusi dan otoritas keuangan di pusat-pusat keuangan dunia seperti New York, London, Tokyo, Hong Kong, dan Singapura. Salah satu penyebabnya adalah karena institusi keuangan terbesar seperti Citigroup, UBS, Merry Lynch, Bear Stearns, dan lainnya tidak terlalu terbuka pada saat awal krisis mengenai risiko yang mereka tanggung. Hampir semua dari institusi keuangan terbesar mengatakan hal yang sama, yaitu ”Kami memang menanggung kerugian dari masalah subprime, namun tidak banyak”. Ternyata hanya beberapa minggu dari pernyataan publik tersebut dikeluarkan, masing-masing melaporkan kerugian yang berlipat ganda. Hal ini bukan saja buruk bagi institusi masing-masing tapi juga buruk bagi pasar secara keseluruhan karena investor dan otoritas menjadi tidak percaya dengan kualitas informasi yang disampaikan oleh mereka. Hanya karena mereka enggan menyampaikan informasi yang akurat dengan cepat dan jujur, hasilnya adalah krisis informasi dan krisis kepercayaan.

Sebaliknya mereka yang dengan jujur melaporkan kerugian sesungguhnya secara utuh dan cepat kepada pasar tidak saja berhasil mengatasi krisis dengan lebih baik tapi juga mendapatkan uluran tangan dari pihak luar. Bear Stearns, walaupun terlambat, mendapatkan tawaran solusi dari beberapa institusi seperti Temasek dan bank dari Cina ketika pada akhirnya memilih untuk membuka tingkat permasalahan yang mereka hadapi. JP Morgan yang akhirnya mengakuisisi Bear Strearns.

Kedua, kerapihan sistem dan penerapan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance – GCG) menjadi ujung tombak pertumbuhan yang paling efektif di saat normal, dan benteng pertahanan yang paling kokoh di saat krisis. GCG membuat perusahaan jauh dari benturan kepentingan apalagi di pasar keuangan di mana benturan kepentingan tersebut terkadang sulit dikenali atau memang sangat menggoda. Salah satu contohnya adalah pemisahan antara buying side dengan selling side dalam sebuah institusi keuangan. Dalam contoh UBS, wealth management merupakan bagian dari buying side yang bertugas membeli instrumen investasi untuk kepentingan masyarakat penanam modal (investor). Sedangkan investment bank merupakan bagian dari selling side yang bertugas untuk menjual instrumen investasi untuk kepentingan klien.

Ketiga, sinergi antara perbankan dengan pasar modal harus dikaji kembali secara menyeluruh untuk memastikan bahwa tidak ada benturan kepentingan, dan bahwa masyarakat baik nasabah perbankan maupun investor pasar modal, terlindungi dengan baik melalui perangkat peraturan yang cukup jelas dan penegakan hukum yang konsisten. Saat ini adalah waktu yang terbaik bagi perbankan dan pasar modal Indonesia untuk duduk bersama menggariskan visi masa depan yang paling menguntungkan dan saling menguatkan baik bagi industri perbankan maupun pasar modal nasional. Apalagi, telah terjadi pergeseran nyata pada masyarakat Indonesia yaitu dari masyarakat penabung (saving society) menjadi masyarakat penanam modal (investing society).

Dalam 10 tahun terakhir, industri perbankan nasional telah susah payah namun sungguh-sungguh memulihkan diri dari krisis keuangan Asia 1997. Caranya adalah dengan perbaikan sistem, penguatan GCG dan inovasi. Semakin banyak bank nasional yang tidak saja juara dalam kompetisi namun juga jawara dalam melayani sehingga dapat memenangkan kepercayaan nasabahnya walaupun harus bersaing dengan bank-bank asing. Ini kesempatan yang harus dimanfaatkan lebih lanjut oleh bank-bank nasional.

Demikian juga dengan industri pasar modal nasional. Sinergi di antara industri tersebut mutlak harus direncanakan dan diimplementasikan sesuai dengan kebutuhan perekonomian nasional. Yang penting bukan saja mensinergikan kapabilitas, tapi juga membangun kesepahaman atas pentingnya keterbukaan dan kejujuran.

Grafik: Bank berbasis di AS merupakan yang terparah dalam krisis sub-prime

Pemotongan dan kerugian kredit yang dialami bank besar, seperti dilaporkan pada 21 April 2008


Sumber: Bloomberg