Category Economic

Indonesia Economy 2009 dot point 0

Apr27

· Indonesia has been a very attractive market for the foreign investors since its time of independence. A number of foreign companies, most of them large multinationals, have invested in the Indonesian market in certain areas. These companies have contributed a lot in the development of the country’s resources, building infrastructure, establishing manufacturing facilities for export and/or provide products and services for the domestic market. The Indonesian market is a very hot perspective for investment and there are numerous opportunities available for setting up a company.

· Recently, the Investment Coordinating Board of Indonesia has proposed to the government to adopt more effective measures to encourage foreign investments in the country. Their proposal included the suggestion to open all business sectors to foreign investors. The global financial crisis has yet to derail flows of investment into Indonesia, as foreign investment in January jumped by 61 percent from a year earlier. Foreign direct investment (FDI) in the first month of the year reached US$710 million, far more than the $440 million recorded in the same period in 2007, as shown by data from the Investment Coordination Board (BKPM).

· The development of democracy in Indonesia has a pivotal moment following the collapse of Suharto’s regime in 1998. At the local level the influence of democracy spirit has also encouraged the development of local democracy, especially after policy of decentralization and regional autonomy became main issue in political change in Indonesia.

· Indonesia has made significant progress over the last 10 years. Democratic procedures have been introduced and have already proven their viability. Government has already been changed by these procedures twice. The transfer of power has been accepted by those having to surrender their prerogatives after losing the elections. This is a serious test for every young democracy and Indonesia, in passing, exhibits a reliable democratic potential. The least progress has most probably been made in regard to the influence of big money in politics, even though the establishment of the Corruption Eradication Commission (KPK) by the current administration of President Susilo Bambang Yudhoyono is a very positive sign in this regard

· The report on the fourth quarter of Indonesia’s economic performance was issued recently. With the performance in the fourth quarter, the economy grew by 6.1 percent in 2008. This could make Indonesia one of the few fast-growing countries in the world that so far seem to be insulated from the rest of the world. The economy was primarily driven by two big sources, one is the sheer size of its population, and the other is the abundance of its natural resources.

· In 2008 Indonesia attained self-sufficiency in rice production. The State Logistics Agency (Bulog) is forecasting that the country will export rice for the first time in more than 30 years in 2009. In December merchandise exports fell by 20.6% year on year, the sharpest rate of decline since November 2001. However, exports were up by 20% in 2008.

· Indonesia’s trading partners, including the EU, Japan and South Korea, have accused the government of protectionism by imposing non-tariff barriers on the import of certain goods.

· With rising income, we saw more and more people join the middle class. In 2008, the GDP per capita surged to US$ 2,217 (Rp 26,360,000) from US$ 1,942 a year before. The 14 percent increase in GDP per capita and the continued growth of the population made the GDP exceed half a trillion dollars for the first time in history. This figure is far ahead of the prediction by Goldman Sachs, which indicated that in 2010, GDP may reach US$ 419 billion (“N-11: Not just an acronym”). Apparently, Indonesia was able to manage a GDP that is 25 percent higher in 2008 than the 2010 forecast. With such income, 23 million people, or 10 percent of the population, earned around US$ 7,000 per capita. This is almost the same size as the entire Malaysian population with roughly the same income per capita. Along these lines, 69 million Indonesians, or 30 percent of the population, earned around US$ 4,000 per capita. (Jakarta Post)

· Ice-cream consumption in Sumatra increased by almost 100 percent in 2008 alone. The list of such products continues to grow from year to year. With the strength of its demographic, the economy may continue to grow in 2009 through the rise of its consumption expenditure. In 2008, the growth of the consumption expenditure of the GDP was 5.3 percent, while the share of this expenditure was 61 percent of the economy. Early indications show that the first two months of 2009 continue to post positive consumption growth.

Makna Pemilu bagi Pengusaha 1

Apr27

Sebentar lagi bangsa Indonesia akan memiliki hajatan besar berupa Pemilihan Umum. Hajatan ini benar-benar besar bukan hanya karena kelas hajatannya tetapi juga karena jumlah pemilihnya yang sangat besar. Indonesia adalah negara demokrasi terbesar ketiga di dunia. Beberapa minggu belakangan ini kita melihat berbagai poster bertebaran di sepanjang jalan. Media cetak memberikan ruang khusus peliputan pemilu, demikian pula beragam acara menyesaki televisi kita dengan iklan, dialog partai atau acara lain yang sejenis. Para pengguna internet juga dipaksa untuk melihat tampilan partai maupun caleg yang sedang ‘tebar pesona’.

Pemilu merupakan pertanda bahwa sebuah negara menganut sistem demokrasi dalam perpolitikannya. Dalam pelaksanaannya, pemilu dan perilaku pemilih akan berbeda-beda pada setiap negara. Kita mencatat banyak hal dalam Pemilu Indonesia yang menandakan bahwa kita memang masih banyak harus belajar untuk berdemokrasi. Menghargai pendapat dan pilihan politik orang lain di Indonesia merupakan sesuatu yang masih mahal.

Jika kita menelusuri beberapa kali pemilu terutama setelah berakhirnya Orde Baru, kematangan demokrasi di Indonesia masih jauh dari harapan. Beberapa kekisruhan antar warga terkait dengan pilihan politik yang berbeda masih mewarnai kampanye politik di negeri ini.

Imbasnya adalah terciptanya situasi yang kurang kondusif bagi aktivitas dunia usaha. Kondisi masyarakat yang semula tenang tanpa gejolak berarti tiba-tiba berubah menjadi ketegangan karena adanya konflik antar kelompok yang mengatasnamakan kepentingan partai.

Dapat dibayangkan bagaimana repotnya pelaku usaha dalam melaksanakan kegiatan usaha dalam situasi sosial politik yang memanas. Sedangkan dalam situasi tenang saja, sering muncul hambatan dalam menjalankan usaha. Contoh sederhananya adalah bagaimana pedagang pasar membatalkan niatnya untuk berdagang di pasar karena jalan yang akan dilaluinya masih dipenuhi dengan massa yang berjaga-jaga akibat keributan yang terjadi sebelumnya.

Dalam konteks ini pemilu adalah sesuatu yang menyebalkan bagi para pelaku usaha. Karena bagi pedagang pasar, tidak berjualan sehari akan berpengaruh pada kehidupan rumah tangga mereka.

Dalam konteks yang lebih besar, terganggunya aktivitas para pedagang pasar di beberapa tempat akan mengakibatkan ribuan pelaku usaha menghentikan aktivitas usahanya, artinya banyak rumah tangga akan terganggu dengan situasi yang tidak kondusif tersebut. Agak sulit menghitung berapa kerugian negara akibat mandegnya aktivitas usaha mereka, namun sudah pasti cukup signifikan.

Bagi pelaku usaha menengah keatas, terdapat kecenderungan untuk menunda pengembangan usaha atau investasi dalam rentang kampanye pemilu. Meneruskan rencana untuk mengembangkan usaha atau investasi dalam situasi yang tidak menentu sama saja dengan salah perhitungan atau bunuh diri.

Intinya, para pelaku usaha akan bersikap wait and see sambil menunggu perkembangan lebih lanjut. Pengalaman menunjukkan bahwa di Indonesia, perubahan pemimpin berimbas pada perubahan kebijakan. Bagi dunia usaha, perubahan kebijakan berarti perubahan strategi bisnis, penyesuaian baru dan bahkan sampai perubahan penyelenggaraan organisasi usaha.

Beruntung bahwa sebagian besar pelaku usaha di Indonesia adalah pelaku usaha mikro kecil dan menengah yang mana memiliki organisasi yang fleksibel, praktek bisnis yang sederhana dan tidak mudah terpengaruh secara permanen oleh perubahan situasi eksternal. Krisis moneter 1998 yang berlangsung berbulan-bulan saja dapat diatasi oleh para pelaku usaha ini, padahal krisis moneter menyerang langsung sisi perekonomian. Terbukti bahwa para pelaku usaha di Indonesia masih tetap eksis sampai saat ini.

Dibandingkan dengan krisis moneter, situasi yang timbul sebagai dampak negatif dari penyelenggaraan pemilu sesungguhnya tidak terlalu mempengaruhi kegiatan usaha. Hanya saja seperti tertulis diatas, cukup menyebalkan. Setelah pemilu berlangsung, para pelaku usaha tetap melakukan usahanya. Siapapun yang terpilih tidak membuat mereka tiba-tiba menjadi besar usahanya. Mungkin ada beberapa yang bertambah besar, namun sebagian besar akan tetap berada dalam jalur kurva yang telah dilewati sebelumnya.

Meski pemilu mendatangkan resiko, pemilu juga mendatangkan peluang bisnis bagi beberapa kelompok usaha. Yang paling kelihatan adalah pengusaha di produksi media kampanye dan perlengkapannya (banner, kaos, spanduk, brosur, jasa boga dan lain-lain).

Dari sektor tekstil dan produk tekstil misalnya, kita melihat banyaknya partai baru membutuhkan atribut baru sehingga banyak sekali perusahaan garmen yang kebanjiran order. Pesanan pernak-pernik kampanye berupa kaos, umbul-umbul, bendera dan lain-lain mengalami lonjakan signifikan pada pemilu kali ini. Asosiasi Pertekstilan Indonesia memperkirakan jumlah orderan untuk produk TPT pada tahun ini bisa menembus angka Rp 5 triliun.

Rumah Produksi dan Televisi juga mendapatkan berkah dari penyelenggaraan Pemilu. Durasi tayang kampanye yang dilakukan oleh partai politik untuk pemilu legislatif maupun perkenalan calon presiden sudah melampaui durasi iklan produk komersial.

Belanja iklan selama masa kampanye Pemilu 2004 memberikan kontribusi sekitar 18 persen dari total belanja iklan. Pasangan SBY-JK misalnya, pada masa kampanyenya menghabiskan 50 milyar untuk iklan di televisi. Ketua Umum Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI) R.T.S. Masli mengungkapkan, belanja iklan selama masa kampanye tahun 2004 mencapai Rp 3-4 triliun.

Survei Nielsen Media Research seperti dikutip pada buku Iklan dan Politik (2008) menunjukkan, selama masa kampanye Pemilu 2004, PDI-P dan Partai Golkar paling banyak beriklan. PDI-P mengeluarkan dana Rp 39,25 miliar untuk satu bulan kampanye, sedangkan Partai Golkar membelanjakan Rp 21,75 miliar dimana tidak termasuk iklan media luar ruang.

Tahun ini, sudah pasti angkanya akan naik. Partai Golkar sendiri memperkirakan akan membelanjakan 200 milyar untuk belanja kampanye tahun 2009. Berdasarkan pengumuman KPU, jumlah caleg sementara yang akan bertarung pada Pemilu 2009 mencapai 11.868 orang meningkat dari tahun 2004 yang ‘hanya’ 6.044 orang. Mereka berasal dari 77 daerah pemilihan di 33 provinsi. Mereka akan memperebutkan 560 kursi DPR. Berdasarkan data ini setidaknya belanja iklan akan mencapai 10 triliun.

Menyadari besarnya biaya kampanye dan imbasnya kepada sektor riil, Presiden SBY sampai mengeluarkan himbauan agar partai menggenjot belanja kampanye dalam Pembukaan Sidang Dewan Pleno I HIPMI baru-baru ini.

Telah banyak pelaku usaha yang melihat peluang usaha dari Pemilu ini sejak setahun lalu dimana ditandai dengan menjamurnya usaha digital printing dan tumbuhnya biro konsultasi politik serta lembaga survey.

Peran lain

Sebagian kalangan pengusaha memandang pemilu sebagai momentum untuk perubahan dan keterlibatan pengusaha adalah keniscayaan. Dari sini dapat dipahami mengapa makin banyak pengusaha masuk ke dunia politik dengan harapan dapat menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat baik di Pusat maupun di daerah.

Keterlibatan pengusaha dalam bidang politik memiliki alasan yang beragam. Sebagian menyatakan bahwa selama ini aspirasi mereka sebagai pengusaha kurang diperhatikan oleh para wakil rakyat sehingga dipandang perlu untuk mewakili kepentingannya sendiri di parlemen. Memang masalah-masalah dunia usaha beragam pada masing-masing sektor yang tidak semuanya dapat ditangkap oleh para wakil rakyat yang sebagian besar bukan berasal dari kalangan dunia usaha. Akibatnya beberapa kebijakan terkait sektor usaha tertentu merugikan bagi para pelaku usaha di sektor tersebut. Para pengusaha yang mencalonkan diri pada kategori ini akan lebih banyak membawa aspirasi dari sektor usahanya.

Sebagian lagi mengaku tergerak untuk menyumbangkan perannya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara agar mencapai taraf kemakmuran yang lebih baik. Para pengusaha dalam kelompok ini memandang bahwa ada kekurangan yang menyebabkan bangsa Indonesia lamban akselerasinya dalam mencapai kemakmuran. Sebagian lagi berpandangan bahwa para politisi selama ini hanya beretorika dan menelurkan kebijakan yang tidak pas sehingga diperlukan kehadiran pengusaha untuk memberikan sumbangan pemikiran untuk proses legislasi.

Sebagian lagi merupakan pengusaha yang sedang menurun usahanya sehingga merambah dunia politik. Banyak faktor yang membuat pengusaha menurun usahanya mulai dari kelemahan manajerial, persoalan internal perusahaan sampai dengan faktor eksternal diluar kendali perusahaan sehingga menjadi caleg dipandang sebagai sebuah alternatif bagi kehidupannya.

Apapun latar belakang atau motif pengusaha masuk ke dunia politik, warna kewirausahaan sangat diperlukan oleh bangsa ini terutama di parlemen agar dunia usaha memiliki ‘pengaman’ bagi terjadinya kemungkinan keluarnya kebijakan yang kontraproduktif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Bangsa Indonesia telah melangkah sedikit demi sedikit untuk membangun perekonomian. Perlu beberapa langkah lagi untuk menjadi bangsa yang memiliki kemandirian ekonomi. Hal itu hanya bisa dicapai dengan kerjasama berbagai elemen bangsa baik eksekutif, legislatif, dunia usaha dan masyarakat pada umumnya.

Semoga kedewasaan bangsa Indonesia sudah lebih baik sehingga Pemilu kali ini tidak menimbulkan guncangan sosial politik yang berarti sehingga tidak mengganggu aktivitas usaha.

Diperlukan peran besar dari kader partai untuk membangun kedewasaan berpolitik bagi dirinya sendiri, bagi partainya dan bagi para pendukungnya. Semoga para pengusaha yang mencalonkan diri mampu membawa nilai tambah bagi perkembangan perekonomian Indonesia jika terpilih nanti.

Sumber: Dikutip dari Pidato Sandiaga Uno

Update on Indonesia’s Investment Environment 2009 0

Apr27

Better Macroeconomic condition represents the correct moment to take decision in investment. Because, real development which acted by entrepreneur will not be able to walk maximal without existence of positive support from macroeconomics stability. Indonesia have the big potency to create a better economic growth more compared other state in Asia.

Now, there are so many investment opportunity waiting all investor. Starting from infrastructure, agribusiness, tourism, mining and energy and also some other sector which promise big advantage to investor, like in energy sector. We already know that in our five big islands in Indonesia, two of it, is the biggest user in electricity. That island is Java and Sumatra. Unfortunately, until now energy request still not yet be able fulfilled by Indonesia energy supplier like PLN and other private sector party.

So that, some potential area in economic study, still not be able to be tilled maximal, like mineral for example. In West Sumatra, there are coal reserves which promising in Town Sawahlunto for exactly. It is about 20 million ton of which ready to be exploited. In Tourism. “Nowadays, there are big opportunities, in front of our eyes and heap of supporter mediums have also been made available. For capital owner which still confuse to look for the business opportunity hence most precise place is Indonesia.

Badan Koordinasi Penanaman Modal ( BKPM) predicted that investment growth in 2009 is about 10,7-11,2% to a lot of contributed by local investor. (Growth in 2007-2008 is 20.5%). Lutfi tell that in order to reach goals of investment growth 10,7 – 11,2%, BKPM will focus in investment promotion for three sector that is energy, food and infrastructure. In three the last year, BKPM already obstinately fight for the change paradigm and behavioral in improving climate of national investment gave the theme of From Red of Tape of to Red Carpet. BKPM have also compiled the book “Roadmap Investment” to be made as reference of promotion of investment and service.

Success key for Indonesia efficacy in ascertaining more investment prospect or remain to be bright like last some years, lay in determining process what have to be realized. In the case of real sector investment, the process can be categorized to become three. First, process to realize the investment climate which more interesting and competitive from all security, speed of service permit, and rule of law. Second, process promote the Indonesia to and among other nations in Asia and world. Third, process to maintain the investment which already run or have been agreed. In order to make a better investment, a better society support is very important to support form bottom line.

So what will do? Let use domestic Products. It will give the remarkable positive impact to national economy. Pursuant to simulation from assumption to seven commodity becoming basic need for society, in one year at least Rp 257,5 trillion of fund of stream down in country, to move the economics. Assess that almost a quarter from total expense of APBN in one budget year. ( renewal voice)

Investment climate in Indonesia will be good progressively if government can improve 10.000 by law (perda), that becoming inhibitor of capital investment by foreign and domestic investor during this time. ” During the year 2008, government only able to repair 30 percentage of 10.000 perda pursuing of investment (source: Committee Make An Audit Of The PT of Bank of Swadesi Teddy Reinier Sondakh).

Investment is not only giving labor accretion, not merely giving economic growth. But, investment forwards have to follow to improve the industry strategic structure. For example in goods production, hence its condition has to be more goodness. Shall no longer export the raw goods, but how managed, produced better become fabricating material goods.

Pelaksanaan Kebijakan Akses Pembiayaan bagi pemberdayaan UMKM 0

Apr27

  • Ada beberapa alasan mengapa UMKM perlu diberdayakan.
    1. Pertama adalah karena masih banyak atau sekurang-kurangnya 92 % UMKM belum akses dengan sumber permodalan.
    2. Kedua adalah karena jumlahnya sangat besar. Menurut BPS (2006), jika pengusaha UMKM tidak diberdayakan menyebabkan kemiskinan makin besar dan menjadi beban seluruh bangsa.
    3. Alasan ketiga jika UMKM diberdayakan secara tepat akan menjadi usaha kecil yang kemudian berkembang menjadi usaha menengah
    4. dan alasan keempat. menurut hasil penelitian (Syukur, 2002) umumnya usaha mikro yang mendapat pelayanan keuangan pendapatannya meningkat per- bulan rata-rata 87, 34 % dan alasan yang kelima faktor pendanaan menjadi daya dorong bagi usaha mikro untuk naik kelas menjadi usaha kecil dan bahkan bukannya tidak mungkin untuk terus ke usaha menengah. Usaha mikro mempunyai potensi untuk dikembangkan secara cepat.

  • Pemerintah akan meningkatkan akses UMKM terhadap sumber pembiayaan dengan mengeluarkan 13 dari 29 kebijakan terkait pemberdayaan UMKM. Fokus pemberdayaan UMKM yang pertama adalah peningkatan akses pembiayaan, termasuk kapasitas kemampuan penjaminan dari beberapa lembaga penjaminan kredit.

  • Setidaknya, akan ada 3 Peraturan Menteri Keuangan, antara lain mengenai skema kredit investasi bagi UMKM yang ditargetkan keluar akhir tahun ini. Selain itu, untuk memperkuat sistem penjaminan kredit bagi UMKM, pemerintah juga mengeluarkan program sertifikasi tanah untuk memperkuat penjaminan kredit dengan mempermudah pembuatan sertifikasi tanah serta menurunkan biayanya agar lebih murah dan terjangkau.

  • Menteri Keuangan juga akan menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) mengenai perubahan batas kena pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB). Batas terendahnya akan dinaikkan sehingga memperluas cakupan sertifikasi tanah milik UMKM yang tidak terkena pajak BPHTB.

  • Permenkeu lainnya yang akan terbit pada Agustus ini mengenai pedoman tentang pengelolaan dana APBN untuk optimalisasi pemberdayaan UMKM. ” juga akan melakukan revitalisasi kredit UMKM. Kemudian restrukturisasi dana program kemitraan dan bina lingkungan (PKBL) yang disisihkan dari laba BUMN. Selain itu, paket kebijakan pemberdayaan UMKM juga termasuk pembangunan kewirausahaan dan sumber daya manusia UMKM. “Di sini ada program sarjana mandiri, di mana ada keterlibatan perguruan tinggi dalam business development service (pengembangan layanan bisnis) yang menjadi konsultan bagi UMKM.

  • Pemerintah juga menyiapkan program peningkatan peluang pasar bagi UMKM dengan pengembangan institusi promosi produk dan pengembangan akses pasar melalui hotel.

  • Optimalisasi peran PEMDA dengan melakukan penjaminan kredit UMKM yang diajukan kepada perbankan dirasakan sangat strategis dalam upaya pemberdayaan UMKM di daerah. Skema penjaminan yang dilakukan dapat dipilih dari alternatif-alternatif sesuai dengan kondisi daerah. Dengan penjaminan ini, maka pemberdayaan UMKM baik dari sisi kelembagaan maupun permodalan melalui mekanisme perbankan dapat dilakukan sehingga hasil yang diperoleh akan dapat lebih optimal.

LONDON SUMMIT: G20 akankah efektif untuk Indonesia? 0

Apr27

Kemerosotan ekonomi AS sampai saat ini di karenakan dua hal. Pertama, pengeluaran yang sangat unproduktif militer AS sebagai penjaga dunia dari teror. Kedua, melemahnya sektor manufaktur akibat banyak produk saingan yang lebih kompetitif muncul dari negara lain. Dua hal ini yang menyebabkan bursa Wall Street menciptakan produk derivatif yang nilainya 684 triliun dollar AS atau 11 kali total PDB dunia. Industri derivatif ini menjadi penyebab utama terjadinya krisis yang sampai saat ini belum terselesaikan.

Sistem banking internasional yang telah runtuh, banyak perusahaan yang tutup, menurunnya volume perdagangan dan meningkatnya pengangguran adalah sederet dampak dari krisis ekonomi yang sampai sekarang belum juga selesai. Menganggapi hal itu, sebagai tindak lanjut dari Washington Summit pada November 2008 silam, maka pada 2 april 2009 akan diselenggarakan kembali pertemuan para pemimpin Negara G-20 di London. Pertemuan yang dilatar belakangi buruknya krisis bank internasional saat ini akan membahas tentang bagaimana meningkatkan koordinasi global untuk membantu mengembalikan pertumbuhan ekonomi global. Tiga komitmen yang harus disepakati dalam pertemuan itu adalah:

· Menstabilkan pasar finansial dan membantu para pelaku bisnis untuk keluar dari resesi

· Reformasi dan penguatan keuangan global dan sistem ekonomi untuk mengembalikan keyakinan dan kepercayaan

· Untuk meletakkan ekonomi global dalam kerangka pertumbuhan yang berkelanjutan.

KTM G-20 London sebelumnya telah mengeluarkan pemberitahuan resmi yang dalam pasal 7-nya menyatakan, International Organization of Securities Commission (IOSCO) akan meningkatkan peranannya sebagai badan pengawas supranasional untuk mencegah terulangnya krisis kembali. Pasal 8 KTM menyebut, perombakan kuota IMF untuk meningkatkan porsi emerging markets harus selesai pada Januari 2011. Sedangkan perombakan Bank Dunia harus diselesaikan pada April 2010, termasuk demokratisasi pimpinan BD/IMF harus berdasarkan meritokrasi dan bukan lagi kuota duopoli AS untuk BD dan Eropa untuk IMF.

World Trade Organisation (WTO) juga telah memprediksi bahwa perdagangan global akan turun menjadi 9% tahun ini. Penurunan ini adalah penurunan yang paling tinggi sejak perang dunia dua. Antara tahun 1990 sampai dengan 2006 pertumbuhan perdagangan dunia tumbuh lebih dari 6% per tahun. Namun saat ini mesin ekonomi bergerak kebalikannya. Eksport Jepang pada bulan feburari turun 50% dibandingkan februari tahun lalu. namun demikian impor negara ini juga mengalami penurunan yang tajam sehinggal neraca perdangangan jepang masih tercatat surplus.

Keruntuhan ini disebabkan oleh globalisasi. Jaman dahulu, barang diproduksi dalam suatu negara kemudian di export. Akan tetapi saat ini produk terdiri dari beberapa bahan yang berasal dari seluruh dunia. Statistic perdagangan melihat pada nilai, bukan pada nilai tambah, sehingga mereka banyak memasukan perhitungan ganda. Akibatnya ketika ekonomi terguncang, maka perdangangan akan terguncang lebih hebat.

Bank Dunia juga mengatakan, sejak pertemuan para pemimpin G-20 November lalu di Washington, DC, 17 negara diantaranya memiliki kebijakan perdagangan yang sangat ketat. Beberapa menaikan tariff, seperti India pada baja, Rusia pada mobil second, China juga telah melarang import daging babi dan merek Italia.

Dalam menyambut London Summit April mendatang, banyak negara yang telah melakukan persiapan dengan melakukan forum forum yang membahas solusi mengatasi krisis. Dalam pertemuan yang dilakukan menteri menteri keuangan negara G20 menghasilkan beberapa keputusan penting yang diantaranya adalah:

· Komitmen untuk memerangi segala bentuk protectionism dan menjaga perdagangan terbuka.

· Berjanji berusaha yang berkelanjutan untuk mengembalikan pertumbuhan.

· Memberikan bantuan kepada IMF agar dapat lebih membantu negara anggotanya

Tindakan nyata sangat diperlukan untuk menyelesaikan krisis ini dalam menghindari resesi ekonomi, perlindungan terhadap deflasi, penguatan sektor finansial dan mencegah tekanan dari kebijakan proteksi yang akan menghancurkan setiap negara. Karena itu dalam pertemuan London summit diharapkan para pemimpin dapat:

  • Mereview dampak krisis keuangan global dan apakah aksi yang diperlukan harus mengacu pada bagaimana memicu permintaan sesegera mungkin di mana hal ini konsisten untuk kesinambungan anggaran jangka panjang Menetapkan komitmen mereka dalam kestabilan harga dan menghindari deflasi dan mensuport bank sentral untuk melanjutkan kebijakan moneter yang dibutuhkan
  • Menetapkan kebulatan untuk mengambil tindakan apapun yang dibutuhkan untuk membuat ekonomi global lebih stabil termasuk tindakan untuk mendukung peminjaman.

Namun tampaknya KTT G-20 masih diwarnai adanya kekuatan dua golongan. Disatu sisi sikap AS sebagai super power yang selalu menginginkan hasil pertemuan adalah sebagai prasyarat pemulihan ekonomi, sedangkan disisi lain yang didominasi Eropa, emerging markets menginginkanpemulihan kepercayaan dengan merombak adanya kekuasaan moneter yang melebihi skala nasional sehingga kredibilitas pulih dan pasar menjadi normal kembali. Penggelontoran stimulus dalam kondisi lenyapnya kredibilitas tak akan menjamin suksesnya stimulus.

Bagaimana dengan Indonesia? Sangat diharapkan bahwa kehadiran Presiden SBY besok di KTT G-20 bukan untuk sekadar mengulangi minta dana dari IMF kembali. Paradigma era G-20, Indonesia sebagai anggota G-20 harus turut serta merombak dan menentukan pola operasi IMF kedepannya agar lebih menesejahterakan negara negara anggotanya.