Archive December 2009

The Art of Practical Leadership (review) 1

Dec20

Setiap organisasi atau perusahaan tentu membutuhkan adanya seorang pemimpin yang sesuai dengan waktu dan situasi yang sedang berkembang. Seiring dengan pasang surut yang dialami oleh perkembangan sebuah usaha atau bisnis juga membutuhkan figur seorang pemimpin yang berbeda pula karateristiknya, sebab tujuan akhir dari sebuah usaha adalah diraihnya keuntungan secara finansial.

Memimpin puluhan ribu karyawan yang menyebar di medan operasi tambang di wilayah Papua tentunya membutuhkan gaya dan karateristik kepemimpinan yang berbeda. Walaupun secara umum sebenarnya sudah banyak teori-teori kepemimpinan dibahas dan dibicarakan orang, akan tetapi penerapannya di lapangan terbukti masih dibutuhkan adanya figur seorang pemimpin yang selain berwawasan luas juga responsif terhadap isu-isu yang berkembang secara tiba-tiba.

continue reading »

Mereka Bicara JK (Review) 1

Dec20

JK adalah wapres pertama yang berasal dari kalangan saudagar. Orangnya sangat get things done. Sebagai individu, beliau adalah pribadi yang terbuka adn cenderung membebaskan diri dari segala aturan protokoler. Berpidato tanpa konsep atau memakai memakai busana sekedarnya adalah ciri khas beliau. Bagi JK, etika bisa nomer lima atau lima belas. Yang nomer satu adalah kinerja. JK adalah contoh aras baru model pemimpin di negeri ini.

Buku ini menggambarkan komentar sahabat mengenai JK, beberapa yang menarik adalah:

continue reading »

Mengungkap Politik Kartel (Review) 0

Dec20

SEMENJAK reformasi bergulir pasca kejatuhan rezim Soeharto pada 1998, partai-partai politik di Indonesia cenderung membentuk sistem kepartaian yang mirip kartel. Bukti-bukti yang terkumpul menunjukkan adanya lima ciri kartel dalam sistem kepartaian di Indonesia, yakni:

  • Hilangnya peran ideologi partai sebagai faktor penentu perilaku koalisi partai;
  • Sikap permisif dalam pembentukan koalisi;
  • Tiadanya oposisi;
  • Hasil-hasil pemilu hampir-hampir tidak berpengaruh dalam menentukan perilaku partai politik;
  • Kuatnya kecenderungan partai untuk bertindak secara kolektif sebagai satu kelompok.

Kelima ciri tersebut, khususnya yang kelima, berlawanan dengan sifat umum sistem kepartaian yang kompetitif. Partai politik di Indonesia cenderung berkolusi ketimbang berkompetisi. Mereka membentuk sebuah kelompok yang memiliki kecenderungan untuk melayani diri sendiri dibandingkan secara individual mencoba mewakili beragam kepentingan kolektif yang ada di masyarakat.

Kompetisi antar partai politik yang hadir dalam arena politik menghilang begitu partai politik memasuki arena pemerintahan (pembentukan kabinet) dan arena legislatif. Komitmen ideologis dan programatik partai memudar saat mereka membentuk koalisi pemerintahan

Penyebabnya, partai-partai tersebut secara kolektif memiliki kepentingan untuk menjaga kelangsungan hidup mereka, yakni untuk membiayai kegiatan-kegiatan politiknya. Untuk keperluan memobilisasi dana politik itulah mereka secara bersama melakukan kolonisasi terhadap kabinet pemerintahan dan kepemimpinan DPR karena posisi-posisi itu menyediakan rente ekonomi.

Studi ini selanjutnya memberikan memberikan gambaran yang muram tentang prospek terbangunnya sistem kepartian yang kompetitif di Indonesia. Harus dibentuk sebuah mekanisme pemantauan atau pengawasan yang dijalankan oleh badan independen. Fakta memperlihatkan badan negara seperti ini telah ada di Indonesia sejak awal era demokratis. Badan ini adalah KPK. Mari kita lihat saja apakah KPK nantinya bisa menjadi intimidating power yang bisa mencegah partai-partai politik melakukan aktivitas rente.

Oleh: Kuskridho Ambardi

Menggerakkan Nahdlatut Tujjar (review) 0

Dec20

Buku ini mengkaji salah satu tiang penyangga terbentuknya NU: Nahdlatut Tujjar. Buku ini termasuk “lensa teropong” untuk menilik Nahdlatut Tujjar masa silam yang didirikan tahun 1918 dan mencoba menghadirkan semangatnya di masa kini. Dengan demikian, buku ini merupakan refleksi tentang apa yang disebut dengan ekonomi NU.

Sebagai organisasi ekonomi NU, Nahdlatut Tujjar sesungguhnya kurang begitu populer dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Nahdlatut Tujjar jarang sekali termaktub dalam catatan sejarah resmi. Ini terjadi karena tiga alasan. Pertama, sejarah Nahdlatut Tujjar tidak pernah terdokumentasikan secara rapi, baik oleh para pendiri ataupun penerusnya. Kedua, ketidaktahuan kalangan peneliti mengenai keberadaan Nahdlatut Tujjar dan pengaruhnya terhadap perekonomian nasional saat itu. Ketiga, kemungkinan adanya distorsi penulisan sejarah.

Nahdlatut Tujjar lahir sebagai ekspresi para ulama di tiga jalur strategis Jawa Timur, yaitu Surabaya, Kediri, dan Jombang, yang didorong oleh dua faktor penting. Pertama, para ulama kebanyakan belum banyak berbuat dalam upaya pemberdayaan rakyat. Padahal, kemiskinan dan kemaksiatan sudah sampai pada tahap yang sangat memprihatinkan kala itu. Kedua, kolonialisme Belanda sudah merontokkan sendi-sendi kehidupan masyarakat, termasuk tradisi perdagangan.

Proses lahirnya Nahdlatut Tujjar diprakarsai oleh 45 saudagar santri yang berada di tiga jalur strategis di Jawa Timur. Di antara 45 orang pendirinya, hanya ada dua tokoh ulama yang sangat disegani, yaitu KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Hasbullah, sementara yang lainnya adalah para saudagar santri biasa yang memiliki kesamaan visi dan misi untuk mengangkat kualitas kehidupan masyarakat di satu sisi, dan memerangi kolonialisme yang telah melahirkan aneka bentuk eksploitasi dan penindasan di sisi lainnya.

Mengingat Nahdlatut Tujjar lahir dan beroperasi di Surabaya, Kediri, dan Jombang, maka perekonomian di tiga wilayah tersebut juga dapat diketahui. Ketiga kota tersebut terkenal sebagai kota perdagangan (Surabaya dan Kediri) dan kota pesantren (Jombang).

Berkaitan dengan pendirian Nahdlatut Tujjar ini, KH Hasyim Asy’ari menguraikan tentang problem-problem keumatan yang terkait erat dengan soal ekonomi. Beliau kemudian mempelopori dan menuntut kepedulian para ulama, karena merekalah pemimpin dan teladan umat. Apabila basis-basis dan simpul-simpul kemandirian ekonomi tidak dibangun, selain para ulama telah berdosa, bangsa ini juga akan terus terpuruk dalam kemiskinan, kemaksiatan, dan kebodohan akibat dari kuatnya pengaruh kolonial.

Problem lainnya adalah pengaruh penyebaran Islam sufistik yang telah meracuni pola pikir masyarakat Islam Indonesia. Kedatangan kelompok-kelompok sufi ke tanah air jelas menggoyahkan konstruksi Islam yang telah dibangun oleh para penyebar Islam sebelumnya. Dampak yang paling nyata adalah pergeseran orientasi dari fiddunya hasanah (harapan akan kebaikan dunia) ke fil akhiroti hasanah (harapan akan kebaikan akhirat). Dengan pergeseran semacam itu, banyak saudagar muslim yang tidak lagi memiliki etos kerja dan kepedulian sosial.

Yang tidak kalah menarik, sejak awal pendiriannya, Nahdlatut Tujjar ternyata telah mengenal dan menerapkan manajemen organisasi modern. Pembagian struktur organisasi dan pembagian kerja, di mana ada para pendiri, kepala perusahaan, direktur, sekretaris, marketing, dan pengawas keliling sudah dipraktikkan di Nahdlatut Tujjar. KH Hasyim Asy’ari dipilih sebagai kepala perusahaan dan mufti (semacam komisaris), KH Wahab Hasbullah sebagai direktur perusahaan, H Bisri sebagai sekretaris perusahaan, dan Syafi’i sebagai marketing sekaligus pengendali perusahaan.

Selain itu, konsep investasi usaha juga mengemuka dalam bentuk sederhana, yang di era sekarang dikenal dengan profit share. Pembagian keuntungan 50% menjadi kesepakatan bersama, tetapi masih boleh dikembalikan untuk memperkuat modal. Dengan begitu, Nahdlatut Tujjar didirikan bukan hanya untuk membangun basis perekonomian para ulama, melainkan menjaga tradisi perdagangan yang sudah ada sejak sebelum datangnya kolonial dan turut menciptakan pasar sendiri di daerah Surabaya, Kediri, dan Jombang. Lebih dari itu, Nahdlatut Tujjar juga memiliki cita-cita ideal untuk membebaskan masyarakat dari kemiskinan, kemaksiatan, dan kebodohan.

Oleh: Adien Jauharudin

I, Too, Am Malay (review) 0

Dec20

This book shows innermost thoughts on values, attitudes and how future politics in Malaysia must be based on that which is positive and unites all ethnic groups. Tackling controversial issues such as Ketuanan Melayu (Malay Supremacy), the rule of law, and the role of the monarchy, Zaid speaks candidly but sincerely about the way forward for democracy in this country currently plagued by political crises.

A successful corporate attorney who created the nation’s biggest law firm despite his humble origins in a village in Kelantan, Zaid’s journey as a lawyer, politician and philanthropist is depicted here–from his resignation as a Minister and his sacking from UMNO, a party of which he had been a member for 23 years, to his analysis of the current Prime Minister’s ability to restore the rakyat’s confidence in the government.

I, Too, Am Malay, reveal the hopes and dreams of Malay who sees the future of the Malays in a refreshed democracy that anchors on common sense and a profound understanding of their place in a world far larger than their own. This book focused on purpose:

  • Encourage more Malays to read and increase their knowledge
  • Malays will hold fast to the spirit of tolerance and moderation
  • Malaysia will have a good democracy, where citizens can live without fear
  • Younger generation of Malays understand that there is no easy path in life to success
By: Zaid Ibrahim