Archive June 2009

Perusahaan Private Equity Menghadapi Krisis 0

Jun30

Terbelakangnya sektor keuangan, besarnya potensi pasar domestik yang menguasai 70% dari kegiatan ekonomi dan kesiapan pemerintah dalam mengantisipasi krisis adalah sejumlah faktor yang membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini positif dibandingkan Negara Negara lain di Asia. Terlebih lagi banyak perusahaan di Indonesia yang telah belajar dari krisis 1997/1998, sehingga krisis saat ini bukan masalah yang terlalu serius bagi sejumlah perusahaan swasta atau yang sering disebut Private Equity Firm (PEF). Banyak perusahaan swasta telah mengurangi rasio utang terhadap modal untuk menghindari kebangkrutan dari 44% pada tahun 2004 menjadi 13,7% pada tahun 2008. hal ini jika dibandingkan dengan perusahaan swasta di Malaysia (20.4%), Singapore (22.4%), Philippines (27.3%), and Thailand (41.8%) maka rasio Debt/Equity perusahaan di Indonesia masih lebih kecil. Namun tentu saja jika keadaan ekonomi masih buruk seperti saat ini, perusahaan dengan neraca keuangan yang bagus pun akan terkena masalah dan membutuhkan injeksi modal.

Hal in terbukti dari banyaknya PEF yang suffered akibat krisis financial saat ini. Banyak bank yang enggan dan hati hati untuk mengucurkan dananya pada perusahaan swasta yang tidak kredibel. Karena itu perusahaan swasta harus mampu mengelola cash flow dengan benar agar dapat survive ditengah krisis saat ini. Banyak cara bisa dilakukan, misalnya dengan:

Pertama, mengembangkan model bisnis dengan diversifikasi adalah langkah bijak yang perlu diambil perusahaan. Don’t put your eggs into one basket, harus mengilhami konsep sebuah bisnis agar mampu survive. Kedua, mempunyai greater accountability. Banyak kritik dilayangkan pada perusahaan swasta karena rendahnya transparansi dan akuntabilitas keuangan mereka terhadap investor dan lingkungan. Ketiga, Mengurangi risiko pajak yang mungkin terjadi. Perusahaan melakukan ekspansi global dan mencari kesempatan investasi baru selain untuk menciptakan peluang yang ada juga untuk mengurangi risiko pajak yang terjadi. Keempat, berpikirlah selalu jangka panjang dalam memutuskan sebuah masalah.

Untuk sebuah perusahaan private equity, krisis adalah peluang bagi mereka. Terutama pada para pengusaha yang bergerak industri yang mempunyai capital expenditure yang tinggi seperti tambang dan infrastruktur. Perusahaan tersebut dapat mencari celah sewaktu krisis. Mereka percaya pemerintah saat ini akan lebih menggenjot kegiatan ekonomi dalam negeri (belanja infrastruktur demi persiapan pasca krisis untuk menyambut investor dari luar).

Mengenal Risiko lebih dalam! Bagian I 0

Jun15

Setiap perbuatan yang kita lakukan pasti mengandung risiko didalamnya. Risiko memiliki konotasi negatif, hal yang harus dihindari, dan berusaha meminimalkan potensi terjadinya risiko. Risiko dalam bidang keuangan sering diidentikan sebagai hal yang meleset dari perkiraan. Dalam investasi saham misalnya, kita sering mengurangi risiko dengan melakukan diversifikasi atau portofolio atau dengan teorinya yang terkenal “don’t put your eggs into one basket”.

Sebelum membahas lebih jauh mengenai risiko dalam dunia keuangan, adalah lebih baik jika kita mengenali tipe tipe risiko terlebih dahulu. Risiko sangat beragam jenisnya, dari risiko kecelakaan, risiko kematian, risiko bangkrut, risiko kerugian, risiko terjadinya perubahan kurs, risiko terjadinya inflasi, risiko perubahan suku bunga, dan masih banyak lainnya. Namun secara garis besar risiko dapat dibedakan menjadi dua. risiko murni dan risiko spekulatif.

Risiko yang kemungkinan terjadinya ada, namun tidak memberikan keuntungan ketika tidak mengalaminya termasuk dalam risiko murni. Terjadinya kebanjiran, kecelakaan termasuk dalam kategori ini. Di Indonesia saat ini bermunculan industri asuransi yang membantu mengurangi risiko ini dengan imbalan sejumlah premi tiap tahun. Dibandingakan dengan beberapa Negara di Scandinavia pertumbuhan industri asuransi di Indonesia masih tergolong sangat rendah. Bahasan mengenai industri asuransi akan dibahas later on. Tidak pada bagian ini.. okay..

Risiko yang kedua adalah risiko spekulatif. Terdapat kerugian dan keuntungan dalam risiko ini. Berbisnis, berjudi, saham, forex, obligasi, tentu saja masuk dalam kategori ini. Risiko ini biasanya berbanding terbalik dengan orang lain dalam industri bisnis yang sama. Misalnya kita membuka bisnis usaha retoran. Kerugian penjualan yang kita alami mungkin saja membawa keuntungan bagi pengusaha restoran lainnya.

Yang perlu dipahami oleh semua individu tentang risiko adalah risiko itu datang kapan saja dan sulit dihindari. Karena itu banyak perusahaan yang mendatangkan konsultan hanya untuk meminimalkan risiko yang akan terjadi. Banyak sekali risiko yang terjadi dalam sebuah organisasi bisnis. Sebagaimana kita pahami dan sepakati, tujuan utama perusahaan pada dasarnya adalah untuk meningkatkan dan memaksimalkan kemakmuran pemilik perusahaan. Salah satu cara memaksimalkan kemakmuran share holder adalah dengan mengelola risiko dengan baik.

Risiko harus dikelola dengan baik karena kegagalan mengelola risiko menimbulkan banyak biaya yang akan muncul. Bayangkan suatu kejadian di mana sebuah perusahaan karet ban yang mengalami kebakaran salah satu pabriknya. Kerugian langsung dari peristiwa tersebut adalah kerugian finansial akibat aset yang terbakar. Namun lihat juga kerugian tidak langsungnya, seperti tidak bisa beroperasinya perusahaan selama beberapa bulan sehingga menghentikan arus kas. Akibat lainnya barangkali adalah macetnya pembayaran utang kepada kreditor dan suppliers karena terhentinya arus kas tadi yang akhirnya akan menurunkan kredibilitas dan hubungan baik perusahaan dengan para business partners tersebut. Nah, di sinilah pentingnya manajemen risiko. Manajemen risiko yang efektif dapat meminimumkan biaya risiko. Konkretnya, risiko yang dikelola dengan baik, seperti dengan asuransi dan hedging kontrak derivatif, dapat menjaga agar kinerja perusahaan terhindar dari faktor-faktor non-operasi seperti kerugian akibat risiko murni tadi.

Nah pertanyaan selanjutnya bagaimana mengelola risiko secara garis besarnya? Risiko bisa dikelola dengan berbagai cara, menghindar, ditahan (risk retention), dibuang, diminimalkan dengan diversifikasi atau dilimpahkan ke pihak lain.

Mengelola risiko dengan cara menghindar berari menghindari risiko dengan melakukan sebuah tindakan yang memunculkan terjadinya risiko tersebut. Contohnya jika anda takut gagal ketika mendirikan bisnis. Yaudah jadi karyawan aja.mudah kan?

Diversifikasi risiko ini paling terkenal ketika kita mengenal dunia investasi. Pasar saham misalnya. Banyak manajer investasi menggunakan diversifikasi assetnya untuk mengurangi kerugian. Seorang manajer akan mencari asset asset dalam industri yang berlawanan untuk mengurangi terjadinya risiko default. Biasanya terkenal dengan beta portofolio minus satu ( -1) maka seseorang telah menggunakan teori diversifikasi.

Nah skian dulu tentang pengenalan risiko manajemen pada bab selanjutnya akan dijelaskan lebih dalam bagaimana seluk beluk risiko itu. Bagaimana mereka mengelolanya mengatasinya.. menarik bukan?

* Didik Kurniawan Hadi

Book: Be Optimal “ Reach Real Succes in Life and Business” 0

Jun7

Buku ini mengajak kita memberdayakan diri dan meningkatkan kompetensi baik dalam individu maupun organisasi. Seorang manusia memiliki empat dimensi fisik, akal (pikiran), hati dan nurani. Keempat dimensi tersebut saling mempengaruhi. Keempat dimensi manusia itu perlu dikenali kebutuhannya karena itulah yang memberikan kemampuan untuk membentuk hidup dan mencapai kinerja puncak. Kita harus bisa menjaga kondisi emosi tubuh kita karena itu akan berefek terhadap kesehatan tubuh kita. Otak memegang peran yang sangat vital dalam mengkoordinasi bagian tubuh kita yang bertujuan menentukan kondisi fisik, sikap dan hidup kita.

Individu atau organisasi memerlukan arah dalam perjalanan kehidupan. Begitu pula keseimbangan antara keberlimpahan dan keterbatasan yang perlu diketahui oleh individu agar dia mengetahui di posisi mana dia sekarang, sehingga dia tau bagaimana menuju tingkat keberlimpahan.

Setiap orang di dalam perusahaan itu mempunyai peta pribadi akan tujuan yang ingin dicapainya. Buku ini mengajak kita masuk dalam kesadaran akan persepsi kita, peta yang kita gambar secara pribadi. Otak terkadang membentuk peta yang salah, peta yang salah membawa ke arah yang salah. Persepsi yang salah membawa reaksi yang salah. Hal ini sama saja ketika kita memulai suatu usaha. Kita akan memulainya dengan membuat peta. Karena itu berhati hati dan yakinlah ketika menentukan sebuah persepsi. Pertimbangkan semua aspek yang ada sehingga dalam prosesnya otak akan menggambar peta yang jelas dan benar.

Untuk mencapai tujuan organisasi yang telah direncanakan, individu-individu di dalamnya harus merupakan sebuah tim dayung yang handal yang bekerja keras dan cerdas agar tujuan organisasi tercapai. Salah satu caranya bisa menggunakan value based management. Kita dapat menilai bagaimana strategi yang telah kita pilih berpengaruh pada kekayaan perusahaan. Kita dapat mengukur hasil yang dicapai dalam pelaksanaan secara berkala. Balance scorecards melengkapi manajemen nilai perusahaan dalam memetakan, menurunkan, dan mengkomunikasikan strategi. Selain strategi, komunikasi adalah hal yang sangat vital dalam sebuah organisasi.

Buku ini mengajak individu untuk mengaktualisasikan diri dan hidup sepenuhnya dan mengajak perusahaan untuk memaksimalkan potensi orang orang yang bekerja dan terlibat dalam perusahaan yang merangkap tempat bagi pengembangan seluruh dimensi manusiawi karyawan perusahaan.

*Oleh: Melani K. Harrisman

Williamsburg Conference Agenda 0

Jun7

Overview Asia Crisis

  • GDP in emerging Asia, excluding China and India, plummeted by no less than 15 percent on a seasonally adjusted annualized basis in the last quarter of 2008, with the IMF forecasting an average decline for this category of Asian countries of 2.9 percent for 2009.
  • Much of Asia relies for its growth engine on high-and medium- technology manufacturing exports—in particular, motor vehicles, electronic goods, and capital machinery.
  • The demand for advanced manufacturing has collapsed—Japanese auto exports, for example, have fallen by nearly 70 percent between September 2008 and March 2009. At the same time, Asia’s financial ties with the rest of the world have deepened over the past decade, exposing the region to the forces of global deleveraging
  • Looking ahead, Asia’s growth path will continue to run parallel to the global economy. For the rest of 2009, the external shock is expected to continue to spill over into private investment and consumption, causing many countries to register negative growth rates. Then, as the global economy revives in 2010, so too will Asia. But the recovery is likely to be tepid—and not only because the global economy will remain weak. Experience shows that investment tends to recover slowly from downturns, especially those that involve financial stress, the report says.

Solution:

· Forceful countercyclical policies should be sustained to help Asia come out of the recession more quickly and vigorously, and to provide insurance against downside risks.

· On the fiscal policy side, it will be important to sustain the stimulus injected in 2009 into next year, not least as an insurance policy against risks that have yet to reveal themselves. At the same time, it will be critical to preserve fiscal credibility by signaling that such stimulus packages are extraordinary and will be unwound once the recovery is firmly established.

· On the monetary policy side, many central banks still have scope to reduce policy rates, while some may need to support credit to the private sector through unconventional measures.

· Asia may need to rebalance growth away from exports and toward domestic demand in order to return to pre-crisis growth rates. China is already trying to catalyze private consumption, which has been falling for a decade relative to GDP.

· Over the longer term, exchange rate appreciation also might help by providing price incentives to shift resources toward production for domestic use and by raising real household income, thereby spurring consumption, the report states.

Climate Change

· An obvious way forward is to support public energy efficient policies in non-OECD countries as well as to promote the use of renewable energy. Mobilization at the local level around this global issue will depend on our ability to refocus the debate on long-term energy strategies as well as local co-benefits like energy security or pollution abatement. With its capacity to support public policies over the long term, development assistance will play a key role.

· Provide payment for ecological services rendered, could be scaled up. Designing a compensation system to remunerate “avoided deforestation” would allow the countries concerned to benefit from the value of their natural capital. Only by using such mechanisms will we demonstrate that our priority is the future.

· There are a number of practical solutions we can implement to protect our climate. Development assistance, which can support essential technology transfers, facilitate financing and be an instrument of collective action, can serve as one of the important vehicles for these good “recipes.”

· There will be no improvement in the environment without growth, nor will there be any sustainable growth without radical change in the underlying environmental paradigms.