Indonesia 2009 – Stimulasi apakah yang harus diberikan?* 3
Indonesia terkenal sebagai Negara yang mempunyai pasar domestic yang besar dan secara relatif tidak terlalu tergantung pada kegiatan ekspor yang terjadi. Namun walau demikian bukan berarti Negara ini juga tidak terimbas krisis financial global kemarin. Bukti dari terkena imbas ini adalah dilakukannya revisi pertumbuhan pada tahun 2009 dan meluncurkan paket stimulus untuk mengurangi perlambatan ekonomi yang akan terjadi.
Selama bulan januari pemerintah telah memberikan paket stimulus ekonomi dengan melakukan injeksi sebesar $6.31Milliar pada berbagai sektor yang diperkirakan terganggu aktivitasnya. Jika dibandingkan dengan GDP Negara, maka injeksi yang dilakukan pemerintah Indonesia sedikit lebih besar dibandingkan pemerintah US. Injeksi yang dilakukan pemerintahan yudhoyono ini sebesar 1,4% dari total GDP, sedangkan injeksi di US yang sebesar $819 Milliar sebenarnya hanya 1,2% dari GDP mereka. Paket stimulus ini diharapkan dapat membantu menstimulasi pemerintah Indonesia untuk menjaga pertumbuhan ekonomi 2009 sebesar 4,5 – 5,5%.
Stimulus sebanyak US$ 6.4 milliar ini akan dialokasikan pada infrastruktur sebanyak US$ 1,02 milliar. Secara personal saya sangat mendukung alokasi untuk infrastruktur ini, karena sedikitnya investasi yang terjadi di Indonesia salah satunya diakibatkan buruknya infrastruktur di negeri ini. Jika dibandingkan dengan China misalnya, pada tahun 1995, China dan Indonesia sama sama mempunyai infrastruktur jalan raya sepanjang 500km. Namun kini China telah memiliki infrastruktur 5500km, sedangkan Indonesia hanya 700km. Karena itu sangatlah wajar jika China saat ini menjadi negara dengan kapasitas tinggi yang mempunyai cadangan devisa sangat besar.
Dari sisi ketenagakerjaan, krisis ini memberi dampak negatif terhadap tenaga kerja di Indonesia, terutama perusahaan-perusahaan yang berorientasi ekspor. Asosiasi Pekerja Indonesia memperkirakan bahwa dalam pertengahan tahun 2009, perusahaan industri akan memperhentikan karyawan hingga 500 ribu orang. Laporan dari Oxford Business Group juga mengatakan bahwa orang orang di Indonesia yang bekerja di luar negeri seperti di Hongkong, Malaysia, Singapura, Thailand, Filiphina, yang biasanya memberikan pendapatan US$ 6 Milliar pada tahun 2007 diperkirakan akan turun menjadi US$ 3 triliun pada tahun 2009.
Saat ini berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik pengangguran di Indonesia sebanyak 8.4% atau sekitar 9.4 juta orang. BPS memperkirakan bahwa 2,5 juta orang setiap tahunnya adalah tenaga kerja baru. Asumsi didasarkan pada kenaikan 1% pada PDB dapat menyerap 400ribu tenaga kerja baru. Kebijakan stimulasi pemerintah pada 2009 ini diharapkan dapat mengurangi tingkat pengangguran yang terjadi dengan menambah 700ribu sampai 1juta perkerja baru pada tahun ini.
Sebenarnya jumlah penduduk yang banyak ini menjadi keutungan bagi indonesia. Pemerintah harus mendorong seluruh rakyatnya untuk mencintai dan mengkonsumsi produk dalam negeri. Karena dengan cara ini penyerapan tenaga kerja dan pertumbuhan konsumsi akan tumbuh bareng secara proporsional. Jika ini benar bisa terjadi maka resilience ekonomi Indonesia akan jauh lebih kuat dari negara manapun yang mengandalkan impor dan ekspor mereka ketika krisis terjadi.
Kebijakan stimulus yang telah dilakukan pemerintah digabungkan dengan penurunan BI rate menjadi 8.25% (per Februari 2009) diharapkan dapat membantu pertumbuhan sektor riil dan pada akhirnya akan membantu dalam penyerapan tenaga kerja. Semoga pemilu yang terjadi sebentar lagi tidak menyurutkan semua aparatur negara untuk selalu mengutamakan nasib rakyat banyak. Wallahualam Bishowab..
* Didik Kurniawan Hadi