Archive January 2009

PT ASI Pudjiastuti Aviation 11

Jan18

Tiga Pilar Kesuksesan:
1. Pertama, ia seorang yang sukses karena gigih melewati proses.
Berbekal Rp 750 ribu hasil menjual gelang, kalung, dan cincin miliknya, Susi mulai jadi pengepul ikan pada 1983. Waktu itu ia baru sanggup membeli 1 kg, besoknya 2 kg, lusa 5 kg. Begitu seterusnya. Dalam tempo setahun, ia berhasil memasuki pasar Cilacap.
Makin maju usahanya, Susi lalu mulai menyewakan perahu untuk nelayan mencari ikan dan mobil untuk pengiriman. Kini ia punya ratusan perahu dan puluhan truk. Ia pun kemudian menjadi penyalur tetap hasil laut ke beberapa pabrik besar di Jakarta. Tiap hari, pukul 15.00, ia ke Jakarta untuk setor. Di tengah jalan, ia mampir ke Cikampek untuk mengambil kodok. Sampai di Jakarta malam. Setelah mandi dan istirahat ia langsung balik ke Pangandaran. “Begitu tiap hari,” tutur perempuan bersuara berat ini seperti dikutip Jawa Pos.
Ia terus berproses untuk maju.
Dari pengepul dan memasok pabrik dan restoran, ia kemudian meningkatkan diri menjadi produsen dan pengekspor hasil laut.

2. Kedua, dia selalu berusaha memberi nilai tambah.
Ia tahu, semakin segar ikan yang diekspornya, semakin tinggi pula harganya. Harga ikan dan udang yang fresh sampai ke Jepang kurang dari 24 jam, bisa dua kali lipat lebih mahal. Misalnya, ikan laut yang biasanya US$ 3/kg, maka kalau tiba kurang dari sehari semalam, harganya bisa menjadi US$ 8/kg. Itu sebabnya ia tak segan-segan membeli pesawat terbang Cessna agar ikan atau udang yang diekspor bisa tiba kurang dari 24 jam.
Ia juga tahu, semakin murni ikan itu dari bahan pengawet, semakin banyak diburu penggemarnya. Maka ia pun membuat pabrik pengolahan ikan tanpa bahan kimia. Pendinginnya pun ramah lingkungan karena menggunakan amoniak, bukan freon yang merusak ozon.
Ia juga paham, meski karyawannya bergelut dengan ikan setiap hari, mereka membutuhkan tempat kerja yang nyaman. Maka pabrik ikannya pun dibangun mirip mal — penuh dengan keramik dan kaca — meski untuk itu ia harus menggelontorkan biaya investasi yang lebih mahal.

3. Ketiga, ia mengamalkan ilmu ekonomi bisnis.
Jangan tanya teori kepadanya. Ia akan menggeleng. Ia memang tak dibekali ilmu akademis. Sekolah SMA saja DO. Jadi ketika ditanya apa resep suksesnya, ia tak mampu menjawab. Tapi coba perhatikan apa katanya kepada Niriah.com: “Menurut saya ilmu ekonomi itu alamiah. Kalau orang mau berdagang, ya sediakan barang yang bagus, kasih harga yang bagus, begitu saja.”
Ia memang tidak belajar secara akademis. Namun dari jejaknya, terlihat jelas bahwa ia justru mengamalkan berbagai ilmu manajemen yang banyak diteorikan oleh para pakar manajemen.
Dengan ketiga faktor itulah, menurut saya, ia bermetamarfosa dari ulat (seorang yang tekun menggeluti bisnisnya tanpa mengeluh, pantang menyerah) menjadi kupu-kupu (pengusaha hasil laut yang sukses). Kini kupu-kupu itu terbang makin tinggi karena ia juga membangun maskapai pesawat carteran, sebagai ekspansi usahanya. Pesawat Cessna yang semula hanya dipakai untuk mendukung ekspor hasil lautnya ternyata mampu menggugah semangat wirausahanya untuk masuk ke bisnis baru: pesawat carteran. Tahun ini ia bakal memiliki 14 pesawat kecil yang terbang ke daerah-daerah pelosok, termasuk Aceh dan Papua.
Pengalamannya berbisnis terasah matang. Kini, perusahaannya adalah satu-satunya perusahaan pemasok lobster terbesar ke Jepang. “Tak kurang dari 80% lobster yang ada di Jepang sekarang adalah lobster dari kami,” akunya

Another stories
1. Bisnis perikanannya berjalan lancar. Tiba tahun 2004, ketika bencana Tsunami memporakporandakan Aceh dan sebagian Pulau Sumatera, Susi menjadi orang pertama yang datang ke sana. Sejak bencana tsunami melanda Aceh, Desember lalu, Susi banyak tinggal di Medan. Ia mendirikan markas di ibukota Sumatera Utara itu, membuka jasa penyewaan pesawat udara. Susi tak sekadar menyewakan. Ia juga menyediakan kursi gratis bagi wartawan, serta pihak-pihak sosial yang akan membantu korban tsunami.

2. Dengan sederhana, ia menyatakan ,”Just be your self! Jadilah apa adanya dirimu sendiri. I am just like the way I am. Sometime dropp, sometime funny. If I want to cry, I’ll cry. If I don’t like something, I’ll screaming. I’ll expressed the way I wanted,” ucapnya tegas.

3. Ibu dari 3 anak dan nenek dari 1 orang cucu ini, mengungkap target hidupnya.
“My target is feeling happy dan membuat diri saya jadi berguna buat orang lain. Termasuk menambah gaji karyawan dan mempekerjakan karyawan lebih banyak lagi. I want to be able to do more thing for more people

4. Menyinggung soal keterampilan negoisasi, Susi menekankan pentingnya sikap ‘open minded’. “There’s so much thing to learn by looking your surrounding. Belajar tidak hanya dari rekan atau orang yang lebih tinggi tapi juga dari orang-orang kecil. Seringkali mereka (orang kecil) memikirkan sesuatu yang tidak terpikir oleh kita, only because we know too much”, tuturnya. Susi juga setuju bahwa dalam mengambil setiap tindakan bisnis, seseorang sudah harus menyiapkan beberapa skenario sebagai langkah antisipasi. “Prepare for worst case, unsur luck hanya akan kita ketahui setelah mencoba”, tambahnya.

5. Susi mendapat anugerah Primaniarta sebagai UKM teladan, dari Presiden SBY.

* Dikutip dari berbagai sumber

Memaknai Krisis Subprime di AS dan Eropa 0

Jan14

Berdasarkan data Bloomberg, jatuhnya pasar kredit global yang sebagian besar disebabkan oleh krisis kredit perumahan subprime di Amerika Serikat telah mengakibatkan kerugian US$ 319 miliar pada industri perbankan global. Sementara penghapusan piutang kredit diprediksi masih akan terus terjadi, data tersebut membuktikan bagaimana krisis yang terjadi akan memaksa bank-bank terkemuka di dunia – beberapa juga hadir di Indonesia – untuk mengubah pola bisnisnya. Walaupun dampak langsung dari krisis subprime ke pasar keuangan dan perekonomian Indonesia cukup teratasi, banyak yang dapat kita pelajari dari pengalaman pahit bank-bank asing terkemuka yang relevan untuk segera diterapkan di Indonesia.

Citigroup merupakan bank dengan kerugian terbesar sejak krisis mulai yang penurunan nilai hutangnya mencapai US$40,9 miliar serta mengakibatkan pengunduran diri Chief Executive Citigroup Chuck Prince. Nasib yang sama juga dialami Merryl Lynch. Penurunan nilai hutang senilai US$31,7 miliar juga mengakibatkan pengunduran diri Chief Executive-nya, Stan O’Neal.

Dapat dipastkan bahwa mereka yang paling banyak mengalami kerugian akan menghadapi tantangan yang paling berat untuk melakukan perubahan. Sebagai contoh, investor Citigroup menuntut institusi tersebut untuk memecah operasinya menjadi beberapa bagian.

Beberapa institusi bahkan telah memulai perubahan besar. Bank of America (BoA) yang juga mengalami kerugian signifikan akibat krisis sub-pime, telah melakukan pemotongan jumlah karyawan lebih dari 1.500 orang dari berbagai unit bisnisnya. BoA juga mengumumkan penjualan bisnis prime brokerage dan Collateralized Debt Obligation (CDO). Sementara, Bear Stearns sampai hampir harus gulung tikar dan sahamnya akhirnya diakuisisi oleh JP Morgan senilai US$10 per saham atau total US$1,2 miliar. Hal itupun dilakukan JP Morgan setelah US Federal Reserve memutuskan untuk membiayai aset Bear yang masih ada di pasar senilai US$29 miliar. Bangkrutnya Bear Stearns sangat ironis dan mengenaskan mengingat saham Bear Stearns masih diperdagangkan di level tertinggi pada Januari tahun lalu yaitu senilai US$169. Majalah Fortune beberapa minggu yang lalu mengupas jatuhnya Bear Stearns bagaikan sebuah novel yang menyedihkan dimana perusahaan yang selama ini dikenal sebagai salah satu yang terbesar dan terkemuka harus gulung tikar hanya dalam hitungan minggu atau bahkan hari.

Sementara, hal berbeda terjadi pada Goldman Sachs dimana pendapatan bersihnya (net revenue) meningkat di tahun 2007 dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Goldman Sach tampaknya berhasil menghindari dan mengatasi krisis.

Agak berbeda dengan Amerika, hal sebaliknya terjadi pada sektor perbankan Eropa. Model bisnis mereka yang konservatif telah menyelamatkan bank-bank Eropa ini dan berhasil mencetak pertumbuhan dalam beberapa tahun belakangan ini.

Deutsche Bank, salah satu bank terbesar di Eropa, melaporkan peningkatan laba sebesar 7% di tahun 2007 dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Ini merupakan salah satu bukti keberhasilan dalam menghindari krisis. Meskipun Deutsche Bank melaporkan kerugian bersih (net loss) senilai EUR 141 juta pada kuartal pertama 2008 minggu lalu sebagai akibat dari penurunan nilai hutang berisiko tinggi (write-downs on leveraged loans) dan turunnya kondisi pasar secara umum, Deutsche Bank dapat dikatakan berhasil mengatasi dan mengantisipasi akibat krisis lebih baik dibandingkan dengan institusi keuangan tingkat dunia lainnya.

Contoh institusi Eropa lainnya yang berhasil melewati krisis adalah Credit Suisse. Meskipun begitu, hal ironis terjadi pada institusi ini; mereka mengumumkan pengurangan nilai aktiva sebesar US$2,85 miliar seminggu setelah melaporkan kinerja kuartal keempat yang menggembirakan. Walhasil, kinerja kuartal pertama 2008 Credit Suisse mengalami kerugian sebesar US$2 miliar.

Tidak demikian halnya dengan UBS, yang akan melaporkan pendapatan kuartal pertama 2008 pada 6 Mei mendatang. Institusi ini telah menurunkan nilai aktivanya senilai US$38 miliar sejak krisis berlangsung. Penghapusan kredit ini merupakan yang terbesar dibandingkan dengan bank-bank Eropa lainnya dan merupakan yang terbesar kedua di dunia sesudah Citigroup. Lebih dari itu, krisis ini juga telah menyebabkan Chief Executive UBS Peter Wuffli dan Chairman UBS Marcel Ospel mengundurkan diri. Serupa dengan Citigroup, pasar menuntut UBS untuk melakukan perubahan signifikan. UBS dituntut untuk punya visi yang lebih jelas terutama berkaitan dengan pemisahan antara bisnis investment bank dan wealth management. Bos UBS yang baru Marcel Rohner mengatakan kepada para investor dalam RUPS 23 April lalu, ”Kami tidak lagi bertujuan menawarkan segala sesuatu kepada semua orang dalam bidang investment banking. Kami tidak boleh lagi melakukan konsentrasi risiko yang tidak perlu. Modal yang dibutuhkan bagi investment bank untuk tumbuh di masa depan harus dikumpulkan dari bisnis masing-masing unit”.

Untuk memperkuat neraca keuangannya, menurut Bloomberg, UBS terpaksa menyuntikan dana segar senilai US$26,9 miliar sejak tahun lalu. Marcel Rohner menyampaikan kepada investor dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) bahwa ia akan melanjutkan pemutusan hubungan kerja (PHK) dari total 1.500 karyawan yang telah dilakukan sejak krisis berlangsung. Pemotongan jumlah karyawan ini sangat diharapkan dapat memperkuat bisnis investment banking, sesuai dengan pernyataan Chairman UBS Peter Kurer untuk menjadikan wealth management sebagai fokus utama dari bisnis UBS.

Tahun 2008 akan menjadi tahun perubahan signifikan di industri perbankan global. Bagi beberapa bank, tingkat perubahan yang dibutuhkan akan bergantung pada kuatnya ketahanan mereka dalam menghadapi krisis.

Walaupun krisis sub-prime di AS tidak berdampak langsung dan jika ada juga tidak terlalu signifikan terhadap pasar keuangan di Indonesia, banyak yang dapat dipelajari dan dimanfaatkan oleh industri perbankan nasional.

Hal pertama yang dapat diplejarai adalah pentingnya kejujuran dalam keterbukaan. Ini selalu menjadi modal utama dalam bisnis apapun dalam keadaan apapun. Krisis subprime yang seyogyanya adalah krisis kredit perumahan berubah menjadi krisis kepercayaan antar institusi dan otoritas keuangan di pusat-pusat keuangan dunia seperti New York, London, Tokyo, Hong Kong, dan Singapura. Salah satu penyebabnya adalah karena institusi keuangan terbesar seperti Citigroup, UBS, Merry Lynch, Bear Stearns, dan lainnya tidak terlalu terbuka pada saat awal krisis mengenai risiko yang mereka tanggung. Hampir semua dari institusi keuangan terbesar mengatakan hal yang sama, yaitu ”Kami memang menanggung kerugian dari masalah subprime, namun tidak banyak”. Ternyata hanya beberapa minggu dari pernyataan publik tersebut dikeluarkan, masing-masing melaporkan kerugian yang berlipat ganda. Hal ini bukan saja buruk bagi institusi masing-masing tapi juga buruk bagi pasar secara keseluruhan karena investor dan otoritas menjadi tidak percaya dengan kualitas informasi yang disampaikan oleh mereka. Hanya karena mereka enggan menyampaikan informasi yang akurat dengan cepat dan jujur, hasilnya adalah krisis informasi dan krisis kepercayaan.

Sebaliknya mereka yang dengan jujur melaporkan kerugian sesungguhnya secara utuh dan cepat kepada pasar tidak saja berhasil mengatasi krisis dengan lebih baik tapi juga mendapatkan uluran tangan dari pihak luar. Bear Stearns, walaupun terlambat, mendapatkan tawaran solusi dari beberapa institusi seperti Temasek dan bank dari Cina ketika pada akhirnya memilih untuk membuka tingkat permasalahan yang mereka hadapi. JP Morgan yang akhirnya mengakuisisi Bear Strearns.

Kedua, kerapihan sistem dan penerapan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance – GCG) menjadi ujung tombak pertumbuhan yang paling efektif di saat normal, dan benteng pertahanan yang paling kokoh di saat krisis. GCG membuat perusahaan jauh dari benturan kepentingan apalagi di pasar keuangan di mana benturan kepentingan tersebut terkadang sulit dikenali atau memang sangat menggoda. Salah satu contohnya adalah pemisahan antara buying side dengan selling side dalam sebuah institusi keuangan. Dalam contoh UBS, wealth management merupakan bagian dari buying side yang bertugas membeli instrumen investasi untuk kepentingan masyarakat penanam modal (investor). Sedangkan investment bank merupakan bagian dari selling side yang bertugas untuk menjual instrumen investasi untuk kepentingan klien.

Ketiga, sinergi antara perbankan dengan pasar modal harus dikaji kembali secara menyeluruh untuk memastikan bahwa tidak ada benturan kepentingan, dan bahwa masyarakat baik nasabah perbankan maupun investor pasar modal, terlindungi dengan baik melalui perangkat peraturan yang cukup jelas dan penegakan hukum yang konsisten. Saat ini adalah waktu yang terbaik bagi perbankan dan pasar modal Indonesia untuk duduk bersama menggariskan visi masa depan yang paling menguntungkan dan saling menguatkan baik bagi industri perbankan maupun pasar modal nasional. Apalagi, telah terjadi pergeseran nyata pada masyarakat Indonesia yaitu dari masyarakat penabung (saving society) menjadi masyarakat penanam modal (investing society).

Dalam 10 tahun terakhir, industri perbankan nasional telah susah payah namun sungguh-sungguh memulihkan diri dari krisis keuangan Asia 1997. Caranya adalah dengan perbaikan sistem, penguatan GCG dan inovasi. Semakin banyak bank nasional yang tidak saja juara dalam kompetisi namun juga jawara dalam melayani sehingga dapat memenangkan kepercayaan nasabahnya walaupun harus bersaing dengan bank-bank asing. Ini kesempatan yang harus dimanfaatkan lebih lanjut oleh bank-bank nasional.

Demikian juga dengan industri pasar modal nasional. Sinergi di antara industri tersebut mutlak harus direncanakan dan diimplementasikan sesuai dengan kebutuhan perekonomian nasional. Yang penting bukan saja mensinergikan kapabilitas, tapi juga membangun kesepahaman atas pentingnya keterbukaan dan kejujuran.

Grafik: Bank berbasis di AS merupakan yang terparah dalam krisis sub-prime

Pemotongan dan kerugian kredit yang dialami bank besar, seperti dilaporkan pada 21 April 2008


Sumber: Bloomberg

Menulis Lamaran yang Menarik..(Pengakuan seorang HR) 1

Jan7

Sebagai manager HRD di sebuah perusahaan swasta, tahukah anda tugas apa yang membuat saya bosan setengah mati? Ya, kalau anda pernah bekerja di bagian HRD mungkin anda bisa menebaknya, yaitu membaca CV dan dokumen lamaran lainnya.

Bagaimana tidak bosan, satu lowongan kerja saja bisa mendatangkan ratusan pelamar kerja. Saya masih ingat beberapa tahun yang lalu, ketika perusahaan kami membuka 9 lowongan kerja. Tebaklah berapa jumlah dokumen lamaran yang sampai ke bagian HRD kami? 2452 dokumen!

Lalu apa yang harus kami lakukan dengan pelamar sebanyak itu? Memilih secara acak diantara dua ribu orang lebih? Terlalu riskan. Mengundang semuanya untuk wawancara? Terlalu makan waktu, manajemen senior hanya memberikan waktu 2 minggu.

Akhirnya seorang rekan mencetuskan sebuah ide yang (menurut saya) agak “jahat”, yaitu cukup dengan melihat CV mereka saja. Intinya adalah CV yang tidak menarik dan tidak sedap dipandang mata, langsung kami buang ke tong sampah. Wow, kejam sekali!

Tapi itulah yang kami lakukan mulai saat itu dan seterusnya, hanya menilai buku dari sampulnya. Yah, mau bagaimana lagi, kami sudah tidak tahu cara yang lebih baik. Lagi pula cara ini terbukti efektif dan efisien. Kami berhasil mendapatkan orang-orang berkualitas selama bertahun-tahun menerapkannya.

Sepanjang karir saya selama memeriksa dokumen lamaran, hanya ada tiga dokumen lamaran yang benar-benar saya ingat. Yang lainnya memang bagus, tapi yang tiga inilah yang paling unik dan berbeda (sehingga masih saya ingat sampai sekarang).

Yang pertama berupa sebuah brosur. Bukan brosur sembarangan dan yang biasanya dicetak hitam putih. Tapi sebuah brosur yang sangat bagus sekali, dengan kertas yang berkualitas dan dicetak full-color! Hebat, orang ini sungguh serius sekali.

Yang kedua hanya sebuah dokumen CV biasa. Yang membuatnya berbeda adalah CV ini dikirimkan dengan menggunakan jasa FedEx. Karena mengira itu dokumen penting, dokumen itu sampai ke meja saya dengan mulus dan langsung saya baca. Dalam hal merebut perhatian saya, CV ini telah mengalahkan ratusan CV yang lain.

Yang ketiga adalah CV yang menyertakan sebuah hyperlink ke sebuah situs pribadi. Yang sungguh mengagumkan adalah CV itu tidak berkata banyak selain membuat saya penasaran untuk mengunjungi situs tersebut. Dalam situs itu ada rekaman video singkat tentang mengapa saya harus memberinya pekerjaan. Inilah yang disebut berusaha ekstra untuk sebuah CV!

Kesimpulannya: Jangan takut untuk melawan arus. Lain kali anda menuliskan CV anda, buatlah yang berbeda dan unik. Jangan dengarkan suara dan ketakutan “orang yang biasa-biasa saja”. Jadilah berani untuk tampil beda, karena itulah yang akan memudahkan kami untuk mengingat anda dan menerima anda bekerja di perusahaan kami.

Sumber: dari emailnya Tri Hardiyanto temen SMU…gak tau dapatnya dari mana semoga bukan HOAX

Keadaan Ekonomi Indonesia Selama 2008* 3

Jan7

Perkembangan kondisi perekonomian dunia pada 2008 ini dikhawatirkan akan menuju resesi tingkat akut. Indeks yang mengukur tingkat kepercayaan di enam benua The Bloomberg Professional Global Confidence Index menunjukkan penurunan drastis menjadi 10,3 poin dari 21 poin pada bulan juni 2008 sebagai respon dari melemahnya ekonomi di US, Jerman, Jepang, Prancis, dan UK. Indeks tersebut juga menunjukkan bahwa Asia mengalami penurunan dari 19,4 poin menjadi 7 poin.

Indonesia pun terkena dampak akibat melonjaknya harga minyak dunia. Selama kuartal pertama 2008 inflasi tercatat sebesar 11,03%, BI Rate 8,75%, dan kurs Rp 9.155/US$. Pasar modal pun diwarnai oleh rekor-rekor baru IHSG (indeks harga saham gabungan), SUN (Surat Utang Negara), yang terus diminati oleh investor domestik maupun asing. ORI (Obligasi Republik Indonesia) selalu terserap oleh investor perseorangan dengan nilai yang melebihi target. Cadangan devisa melonjak secara signifikan, dari posisi akhir tahun 2006 sebesar US$34,7 milyar, naik menjadi US$59,5 milyar pada 30 Juni 2008. Kondisi APBN pun belum bisa dikatakan aman, karena selain masih mengandung beban defisit sebesar Rp 82,3 triliun untuk tahun 2008, juga tetap dibayang-bayangi oleh kenaikan harga minyak dunia yang masih terus bergejolak hingga saat ini. Adanya kekhawatirkan bahwa harga minyak mentah dunia bisa menembus angka US$ 200 per barrel di akhir tahun 2008 bukanlah suatu hal yang berlebihan, melihat kondisi kondisi pasar uang dan pasar komoditi dunia yang semakin tidak terkendali akhir-akhir ini.

Kenaikan BBM di perekonomian nasional yang kedua kalinya pada bulan Mei 2008 lalu, menyebabkan ancaman stagflasi akan terjadi dimana pertumbuhan ekonomi sangat lamban, tetapi diikuti oleh tingkat inflasi yang sangat tinggi. Berdasarkan hasil pemantauan BPS, tekanan eksternal dari kenaikan harga BBM dan gangguan pasokan barang-barang kebutuhan pokok menyebabkan pada bulan Juni 2008 terjadi inflasi 2,46 persen dan laju inflasi “year on year” (Juni 2008 terhadap Juni 2007) 11,03 persen. Tingginya angka inflasi ini terjadi karena kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks pada semua kelompok barang dan jasa. Sektor tansportasi merupakan faktor penyumbang inflasi yang tertinggi pada Juni 2008. Kenaikan indeks barang dan jasa transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan pada bulan lalu tercatat sebesar 8,72 persen. Sementara itu, tingkat sensitivitas inflasi dari sektor makanan mengalami penurunan. Tingginya nilai inflasi ini mengharuskan Bank Indonesia (BI) harus menaikkan BI rate minimal 25 bps menjadi 8,75 persen agar selisih suku bunga rupiah dengan inflasi year on year tidak terlalu jauh negatif. Walaupun kenaikan BI Rate akan memberatkan sektor perbankan. Namun hal ini adalah untuk menjaga supaya rupiah tetap diminati, kenaikan ini juga diharapkan mampu menahan pemilik dana yang ingin berspekulasi di pasar modal.

Meskipun pada triwulan I 2008 pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 6,3% secara year on year, namun secara triwulanan hanya tumbuh sekitar 2,1 persen terhadap triwulan IV 2007. Pertumbuhan ekonomi tersebut hanya bertumpu pada kegiatan ekspor, karena dari empat komponen pengguna Produk Domestik Bruto (PDB) hanya ekspor yang tercatat positif, yaitu sekitar 5,7 persen. Sedangkan investasi fisik (Pembentukan Modal Tetap Bruto) mengalami kontraksi sekitar 0,6 persen, dan pengeluaran konsumsi masyarakat turun sekitar 0,4 persen akibat turunnya daya beli di awal tahun 2008 ini.

Ketidakstabilan perekonomian juga ditunjukkan oleh turunnya Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) mencapai titik terendah sejak Oktober 2005. Pascakenaikan harga BBM bulan Mei 2008, IKK menunjukkan angka sebesar 79,1 atau lebih rendah 3,3 poin bila dibandingkan bulan sebelumnya. Kondisi yang semakin pesimis ini didorong oleh semakin menurunnya keyakinan konsumen terhadap indeks kondisi ekonomi saat ini (IKE) sebesar 5,9 poin dan menurunnya Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) sebesar 0,8 poin.

Apabila dihitung secara tahunan, IKK mengalami penurunan sebesar 16,7 poin dibandingkan tahun 2007, hal ini menunjukkan konsumen yang makin pesimis terhadap kondisi ekonomi saat ini dengan penurunan indeks sebesar 12,0 poin. Hal tersebut diikuti pula oleh optimisme yang menurun terhadap ekspektasi konsumen sebesar 21,4 poin.

Berdasarkan survei yang dilakukan Bank Indonesia penurunan IKK terjadi pada hampir seluruh komponen pembentuk IKK antara lain: ketepatan waktu pembelian barang tahan lama sebesar 8,0 poin, ketersediaan lapangan kerja sebesar 5,9 poin, dan ekspektasi ketersediaan lapangan kerja sebesar 1,8 poin. Kondisi tersebut diikuti oleh optimisme yang semakin menurun terhadap penghasilan saat ini sebesar 3,9 poin dan ekspektasi penghasilan sebesar 2,9 poin.

Sektor Industri 2008

Keadaan makroekonomi yang kurang stabil ini, menimbulkan dampak besar bagi kelangsungan hidup sektor-sektor di Indonesia, khususnya sektor industri? Antara tahun 1970an hingga sekarang, peranan sektor industri meningkat pesat meninggalkan sektor pertanian yang kontribusinya semakin menurun. Hingga awal kuartal pertama 2008, peranan sektor industri manufaktur telah mencapai sekitar 27 persen dari PDB. Sejak krisis ekonomi Asia sampai 2007, pertumbuhan sektor industri manufaktur hanya meningkat dengan laju satu digit, di bawah 10%, padahal sebelum krisis pada saat sektor industri manufaktur dapat tumbuh dengan dua digit. Sampai dengan awal 2008 industri hanya tumbuh sekitar 5,69% atau menurun hampir 2% sejak tahun 2004.

Patut dicatat, ada dua industri yang mengalami masa bonanza selama pemerintahan SBY-JK. Semenjak tahun 2004 sampai awal 2008 ini Industri alat angkut-mesin-peralatan menjadi cabang industri dengan laju pertumbuhan tertinggi sebesar 12,9%. Industri pupuk-kimia-barang dari karet menjadi cabang industri dengan laju pertumbuhan tertinggi kedua, sebesar 6,23%. Selama tiga tahun terakhir, ternyata kedua industri ini boleh dikata merupakan sunrise industry. Indikatornya sederhana, yaitu pangsanya melebihi rata-rata per subsektor industri dan memiliki pertumbuhan di atas rata-rata industri. Industri pupuk banyak diuntungkan dengan naiknya harga minyak global, terutama dari produk amoniak. Industri kimia menimbulkan dampak multiplier bagi sektor hilirnya, setidaknya terlihat dari menjamurnya jumlah apotik di Indonesia. Industri barang dari karet merupakan industri hulu untuk industri mobil dan sepeda motor, yang mengalami lonjakan pertumbuhan pada tahun 2007. Industri alat angkut terkait dengan maraknya industri penerbangan dan otomotif, yang terkerek dengan mulai pulihnya daya beli konsumen. Subsektor komunikasi dan transportasi udara memang menjadi primadona karena selama lima tahun terakhir masing-masing selalu tumbuh di atas 20 persen dan 10 persen.

Di sisi lain, ada beberapa cabang industri yang malah tergolong sunset industry. Artinya, industri ini perannya kecil dalam industri manufaktur dan memiliki pertumbuhan di bawah rata-rata industri selama tiga tahun terakhir. Industri yang termasuk sunset industry adalah industri semen & barang galian non-logam, industri barang lainnya, industri kertas & barang cetakan, industri barang kayu & hasil hutan. Sebelum pengumuman kenaikan BBM pada Mei 2008, hampir semua industri non migas yang tergolong sunset industry lebih memprihatinkan dibandingkan pada akhir 2007. Pertumbuhan industri terendah tahun ini terjadi pada industri tekstil, barang kulit dan alas kaki yang pertumbuhannya minus 7,10% lebih buruk dari tahun 2007 yaitu minus 3,68 persen, Industri barang lainnya dari minus 2,82 persen menjadi minus 6,88 persen, industri barang kayu dan hasil hutan yakni minus 0,06 persen, lebih baik daripada tahun lalu yang minus 1,74 persen.

Industri manufaktur Indonesia memainkan peranan penting sejak kita menyadari tidak bisa mengandalkan ekspor sektor migas. Ekspor industri manufaktur menyumbang sekitar 85% ekspor nonmigas dan sekitar 67% total ekspor Indonesia selama ini. Bahkan kontribusi ekspor industri ini telah melampaui ekspor sektor pertanian dan migas sejak awal dasawarsa 1990-an.

Buruknya Sektor Industri

Namun bagaimana dengan produktivitas yang terdapat dalam sektor ini? Bank Indonesia dalam surveinya mengatakan bahwa sektor perindustrian di Indonesia rata-rata baru menggunakan sekitar 70% dari kapasitas produksinya. Artinya, masih banyak pabrik dan mesin-mesin industri yang belum beroperasi pada kapasitas penuh. Pada awal tahun ini terlihat bahwa ketidakefisienan dalam pemakaian kapasitas produksi lebih buruk dibandingkan pada akhir 2007.

Begitu juga dengan penggunaan tenaga kerjanya. Penurunan yang terjadi pada rata-rata kapasitas produksi diikuti dengan penurunan penggunaan tenaga kerja. Dibandingkan dengan 8 sektor yang lainnya, penurunan penggunaan tenaga kerja pada sektor industri pada awal tahun ini paling mengalami keterpurukan menjadi minus SBT 2,76 persen dari sebelumnya SBT 0,38 persen.

Banyak faktor yang menghambat perkembangan sektor ini antara lain tingginya harga BBM yang membuat naik biaya produksi sampai 65 persen, pengalihan jam kerja industri akibat keterbatasan pasokan listrik pun membuat sektor ini harus merenstrukturisasi sistem kerja mereka apalagi untuk industri TPT yang kegiatan produksinya satu minggu penuh. Terlebih lagi, isu kebijakan pemerintah yang akan membatasi penjualan daya listrik 5,5% mulai tahun depan dapat menyebabkan sektor industri kolaps. Roadmap, kebijakan dan strategi yang terarah, serta koordinasi yang just in time adalah solusi yang bisa menjawab perbaikan kondisi ekonomi.

Reformasi Kebijakan

Beberapa persoalan ke depan yang perlu mendapat perhatian serius terkait dengan kinerja pertumbuhan ekonomi nasional adalah kerawanan pangan yang berpotensi terjadi, ketersediaan energi yang tidak mencukupi dan kondisi infrastruktur yang makin tidak memadai, dan banyak persoalan mendasar lainnya yang perlu dibenahi. Kondisi ini pun makin terbebani karena kini Indonesia sedang menjelang pelaksanaan Pemilihan Umum tahun 2009, yang persiapannya akan mulai marak pada tahun 2008.

Tiga arah kebijakan pembangunan 2009 yaitu: peningkatan daya saing industri, peningkatan kapasitas industri, dan peningkatan peran dan faktor pendukung pengembangan industri harus ditopang sumber daya yang berkualitas, infrastruktur yang memadai, reformasi kelembagaan yang jelas, koordinasi antara pusat dengan daerah, dan konsistensi dan koherensi antarkebijakan makro dan sektoral.

* Didik Kurniawan Hadi

Read Me in the Fucking World Created by Heart 3

Jan7

This world is fucking stuff, though I’m seeing the same view like yesterday, walking same road like yesterday my world has totally changed,

Happiness what is that? I think it just dream that can’t be fulfilled

BEM, SEF, IKAMMA, PPM, BITE, Co-investern, Instruktur, kerja part time, full time, dapat beasiswa, ikut seminar training, IPK-cumloade, main sana main sini, semua sudah aku lakukan sebagai mahasiswa. Tapi semua itu hanya mngisi 1/8 dari otakku yang mungkin tidak berbekas ketika aku tua kelak yang akan ditumpuki dengan berbagai kegiatan.

Dan Aku tidak bahagia……………………..

Masa muda yang hanya sekali ini aku bingung mau berbuat apa? Aku melihat teman-temanku yang semua sibuk dan sok sibuk, apakah itu masa muda buat mereka? Cari sponsor, jadi pembicara, sekretaris, bendahara, kerja part time? Itu semua aku akuin penting, tapi just go to hell just being like that, its so damn pity, Mengapa system dunia ini begitu kacau, tuan Kelabu (F**K!), karena kamu aku kebilangan kebahagianku, teman temanku, kau paksa semua untuk mengikuti system yang kau buat…aaarrrgghh….Ada tidak kah dunia yang menstandarkan gaji pada tingkat kebahagiaan??Kalo ada dimana? Aku ingin tahu sekarang apakah aku temasuk kaya atau miskin?bagaimana dengan teman-temanku?

To be honest, I’m oh bukan, tapi we get youth itulah yang aku impikan (love, relationship, friends). Kapan seluruh otakku terisi itu semu, kalo bisa aku rela mengorbankan apapun..

Mimpi apa kamu mbun????Dunia ini milikku, sistem yang telah aku ciptakan, kamu tidak bisa berbuat apa-apa. Kamu harus ikut sistem ini, teman temanmu sudah aku rampas dan sebentar lagi kamu (begitulah kata-kata terakhir yang diucapkan tuan kelabu sesaat sebelum aku akhirnya menyerah)

For all my friends (thanks for being my 1/8 in my entire life where the 7/8 was gone)

* Tuan Kelabu (Tuan Pencuri waktu dalam novel Momo)