Archive January 2009

To be a great leader and a lovable boss in Turbulent Times 1

Jan18

7 Lessons from (Ret). Gen. Colin Powell

LESSON 1: “Being responsible sometimes means pissing people off.“

Good leadership involves responsibility to the welfare of the group, which means that some people will get angry at your actions and decisions. It’s inevitable, if you’re honorable. Ironically, by procrastinating on the difficult choices, by trying not to get anyone mad, and by treating everyone equally \”nicely\” regardless of their contributions, you’ll simply ensure that the only people you’ll wind up angering are the most creative and productive people in the organization

LESSON 2 : “The day soldiers stop bringing you their problems is the day you have stopped leading them. They have either lost confidence that you can help them or concluded that you do not care. Either case is a failure of leadership.\”

Real leaders make themselves accessible and available. They show concern for the efforts and challenges faced by underlings, even as they demand high standards. Accordingly, they are more likely to create an environment where problem analysis replaces blame.

LESSON 3: Never neglect details. When everyone’s mind is dulled or distracted the leader must be doubly vigilant.”

Strategy equals execution. All the great ideas and visions in the world are worthless if they can’t be implemented rapidly and efficiently. Good leaders delegate and empower others liberally, but they pay attention to details, every day.

LESSON 4: Keep looking below surface appearances. Don’t shrink from doing so (just) because you might not like what you find.”

“If it ain’t broke, don’t fix it” is the slogan of the complacent, the arrogant or the scared. It’s an excuse for inaction, a call to non-arms. It’s a mind-set that assumes (or hopes) that today’s realities will continue tomorrow in a tidy, linear and predictable fashion. Pure fantasy.

LESSON 5: Organization doesn’t really accomplish anything. Plans don’t accomplish anything, either.

Theories of management don’t much matter. Endeavors succeed or fail because of the people involved. Only by attracting the best people will you accomplish great deeds.”

LESSON 6: Great leaders are almost always great simplifiers, who can cut through argument, debate and doubt, to offer a solution everybody can understand.“

Effective leaders understand the KISS principle, Keep It Simple, Stupid. They articulate vivid, over-arching goals and values, which they use to drive daily behaviors and choices among competing alternatives. Their visions and priorities are lean and compelling, not cluttered and buzzword-laden. Their decisions are crisp and clear, not tentative and ambiguous.

LESSON 7: “Have fun in your command. Don’t always run at a breakneck pace. Take leave when you’ve earned it:

Spend time with your families. Corollary: surround yourself with people who take their work seriously, but not themselves, those who work hard and play hard. Spare me the grim workaholic or the pompous pretentious “professional” I’ll help them find jobs with my competitor.

Testing The Leaders in Financial Crisis

  1. Presiden SBY: “Crisis that happened only concerning financial sector, not economics as a whole; government immediately specify the policy so that crisis do not creep to whole society sector” (protects small people, moving real sector and control the financial sector) à Global/ Populist
  2. Wapres JK: “Impact of the global crisis to national economics is very small, only 0.1% national capacities; There is no significant Indonesian governmental institution / private sector investing capital in US; situation crisis oppositely; also make another advantage because decrease of world oil price” à Global/ Pragmatism
  3. Menkeu Sri Mulyani : “Adjustment of APBN 2008 and change of assumption to RAPBN 2009; lead technical meeting and controlling financial sector; holding firm of financial regulation (especially in stock market), restoring public confidence” à Focus/ Professional
  4. Mendag Marie Pangestu: “Protect the domestic market from import incursion, forming task force, observation for imported goods, diversification in export destination and investment target” à Focus/Creative
  5. Gubernur BI Budiono: “Observe the crisis 24/7, alleviating monetary policy to overcome the uncertainty and liquidity crisis, conservative taking care of stability of rate and foreign reserve” à Focus/ Carefulness

PT ASI Pudjiastuti Aviation 11

Jan18

Tiga Pilar Kesuksesan:
1. Pertama, ia seorang yang sukses karena gigih melewati proses.
Berbekal Rp 750 ribu hasil menjual gelang, kalung, dan cincin miliknya, Susi mulai jadi pengepul ikan pada 1983. Waktu itu ia baru sanggup membeli 1 kg, besoknya 2 kg, lusa 5 kg. Begitu seterusnya. Dalam tempo setahun, ia berhasil memasuki pasar Cilacap.
Makin maju usahanya, Susi lalu mulai menyewakan perahu untuk nelayan mencari ikan dan mobil untuk pengiriman. Kini ia punya ratusan perahu dan puluhan truk. Ia pun kemudian menjadi penyalur tetap hasil laut ke beberapa pabrik besar di Jakarta. Tiap hari, pukul 15.00, ia ke Jakarta untuk setor. Di tengah jalan, ia mampir ke Cikampek untuk mengambil kodok. Sampai di Jakarta malam. Setelah mandi dan istirahat ia langsung balik ke Pangandaran. “Begitu tiap hari,” tutur perempuan bersuara berat ini seperti dikutip Jawa Pos.
Ia terus berproses untuk maju.
Dari pengepul dan memasok pabrik dan restoran, ia kemudian meningkatkan diri menjadi produsen dan pengekspor hasil laut.

2. Kedua, dia selalu berusaha memberi nilai tambah.
Ia tahu, semakin segar ikan yang diekspornya, semakin tinggi pula harganya. Harga ikan dan udang yang fresh sampai ke Jepang kurang dari 24 jam, bisa dua kali lipat lebih mahal. Misalnya, ikan laut yang biasanya US$ 3/kg, maka kalau tiba kurang dari sehari semalam, harganya bisa menjadi US$ 8/kg. Itu sebabnya ia tak segan-segan membeli pesawat terbang Cessna agar ikan atau udang yang diekspor bisa tiba kurang dari 24 jam.
Ia juga tahu, semakin murni ikan itu dari bahan pengawet, semakin banyak diburu penggemarnya. Maka ia pun membuat pabrik pengolahan ikan tanpa bahan kimia. Pendinginnya pun ramah lingkungan karena menggunakan amoniak, bukan freon yang merusak ozon.
Ia juga paham, meski karyawannya bergelut dengan ikan setiap hari, mereka membutuhkan tempat kerja yang nyaman. Maka pabrik ikannya pun dibangun mirip mal — penuh dengan keramik dan kaca — meski untuk itu ia harus menggelontorkan biaya investasi yang lebih mahal.

3. Ketiga, ia mengamalkan ilmu ekonomi bisnis.
Jangan tanya teori kepadanya. Ia akan menggeleng. Ia memang tak dibekali ilmu akademis. Sekolah SMA saja DO. Jadi ketika ditanya apa resep suksesnya, ia tak mampu menjawab. Tapi coba perhatikan apa katanya kepada Niriah.com: “Menurut saya ilmu ekonomi itu alamiah. Kalau orang mau berdagang, ya sediakan barang yang bagus, kasih harga yang bagus, begitu saja.”
Ia memang tidak belajar secara akademis. Namun dari jejaknya, terlihat jelas bahwa ia justru mengamalkan berbagai ilmu manajemen yang banyak diteorikan oleh para pakar manajemen.
Dengan ketiga faktor itulah, menurut saya, ia bermetamarfosa dari ulat (seorang yang tekun menggeluti bisnisnya tanpa mengeluh, pantang menyerah) menjadi kupu-kupu (pengusaha hasil laut yang sukses). Kini kupu-kupu itu terbang makin tinggi karena ia juga membangun maskapai pesawat carteran, sebagai ekspansi usahanya. Pesawat Cessna yang semula hanya dipakai untuk mendukung ekspor hasil lautnya ternyata mampu menggugah semangat wirausahanya untuk masuk ke bisnis baru: pesawat carteran. Tahun ini ia bakal memiliki 14 pesawat kecil yang terbang ke daerah-daerah pelosok, termasuk Aceh dan Papua.
Pengalamannya berbisnis terasah matang. Kini, perusahaannya adalah satu-satunya perusahaan pemasok lobster terbesar ke Jepang. “Tak kurang dari 80% lobster yang ada di Jepang sekarang adalah lobster dari kami,” akunya

Another stories
1. Bisnis perikanannya berjalan lancar. Tiba tahun 2004, ketika bencana Tsunami memporakporandakan Aceh dan sebagian Pulau Sumatera, Susi menjadi orang pertama yang datang ke sana. Sejak bencana tsunami melanda Aceh, Desember lalu, Susi banyak tinggal di Medan. Ia mendirikan markas di ibukota Sumatera Utara itu, membuka jasa penyewaan pesawat udara. Susi tak sekadar menyewakan. Ia juga menyediakan kursi gratis bagi wartawan, serta pihak-pihak sosial yang akan membantu korban tsunami.

2. Dengan sederhana, ia menyatakan ,”Just be your self! Jadilah apa adanya dirimu sendiri. I am just like the way I am. Sometime dropp, sometime funny. If I want to cry, I’ll cry. If I don’t like something, I’ll screaming. I’ll expressed the way I wanted,” ucapnya tegas.

3. Ibu dari 3 anak dan nenek dari 1 orang cucu ini, mengungkap target hidupnya.
“My target is feeling happy dan membuat diri saya jadi berguna buat orang lain. Termasuk menambah gaji karyawan dan mempekerjakan karyawan lebih banyak lagi. I want to be able to do more thing for more people

4. Menyinggung soal keterampilan negoisasi, Susi menekankan pentingnya sikap ‘open minded’. “There’s so much thing to learn by looking your surrounding. Belajar tidak hanya dari rekan atau orang yang lebih tinggi tapi juga dari orang-orang kecil. Seringkali mereka (orang kecil) memikirkan sesuatu yang tidak terpikir oleh kita, only because we know too much”, tuturnya. Susi juga setuju bahwa dalam mengambil setiap tindakan bisnis, seseorang sudah harus menyiapkan beberapa skenario sebagai langkah antisipasi. “Prepare for worst case, unsur luck hanya akan kita ketahui setelah mencoba”, tambahnya.

5. Susi mendapat anugerah Primaniarta sebagai UKM teladan, dari Presiden SBY.

* Dikutip dari berbagai sumber