Archive December 2008

Indonesia Foot Ball in Misery 0

Dec24

Begitu sulitkan mencari 23 orang dari 200juta penduduk di Indonesia yang bisa bermain bola??. Melihat kekalahan Indonesia dari Thailand kemarin membuat hatiku menjadi pilu. Sepak bola di Indonesia benar benar telah menjadi paradok yang ironis..

Jika orang orang di Brasilia selalu bilang bahwa sepak bola adalah mata pencaharian mereka, mereka bangga karena anak anak sejak kecil telah berlatih di jalanan untuk meningkatkan skill mereka. Namun sebenarnya orang orang Indonesia tidak kalah sebenarnya, anak anak kecil di sini telah ikut berbagai macam sekolah sepak bola yang ternama, bahkan tim anak Indonesia bisa bersaing di dunia pada pertandingan yang diadakan danone.

Namun sedikit hasil diskusi bersama temanku beberapa waktu yang lalu, terdapat beberapa masalah dalam persepakbolaan Indonesia, yaitu:

  1. Di Indonesia profesi menjadi atlet belum menjanjikan untuk dijadikan tumpuan hidup
  2. Kebanyakan pemain sepak bola indoesia tidak berpendidikan tinggi.Orang orang pintar yang kebanyakan lulus strata 1 lebih memilih untuk menjadi karyawan yang memiliki jenjang karir lebih menjanjikan, padahal dalam semua cabang ilmu, kecerdasan otak sangat mempengaruhi untuk menunjang keberhasilan. (memilih sepak bola sebagai akibat, bukan sebagai sebab)
  3. Belum adanya konsen pemerintah yang lebih mengenai olahraga ini, pemerintah masih focus pada bidang ekonomi.

Melihat beberapa kendala tersebut, sebenarnya bisa dilakukan beberapa langkah untuk membenahi system ini.

1. Dukungan pemerintah untuk membuat standar gaji yang lebih menjanjikan misalnya, sehingga orang tua tidak perlu ragu ragu untuk mensekolahkan anaknya untuk bersepak bola

2. Mengikut kebijakan thanksin (PM Thailand) yang mengirim pemainnya ke luar negeri untuk training bersama club club terkenal.

3. Peningkatan sarana dan prasarana

4. Benahi mental, benahi fisik, benahi sikap, benahi karakter penonton, kita harus bisa menghargai lawan.

Semoga tulisan ini ada yang membaca dan memberi masukan bagi persepak bolaan Indonesia

Oleh: Didik Kurniawan Hadi dengan Hendro ketika diskusi dalam sebuah perjalanan menggunakan kereta ekonomi dari Jakarta-yogyakarta

Translate in English

Is it so complicated to look for 23 people from 200million resident in Indonesia which can play foot ball? After saw Indonesia team drubbing from Thailand yesterday make my heart become lugubrious. Football in Indonesia has come to the ironic paradox.

If people in Brasilia always spell out members that football is their living, they proud because since their child they already have exercised in public road to increase their skill. But in fact Indonesian people don’t fail in fact, since their childhood they are have already been followed assorted of football school which distinguished for, even team of Indonesia child can compete in children world cup performed sponsored by DANONE.

But as a little discussion result with my friend some times ago, there are some internal issues of Indonesia football, that is:

  1. In Indonesia, Footballers profession not yet promised to be made a fulcrums live
  2. Mostly footballer education in Indonesia wasn’t well educated. Indonesian which has passed bachelor degree more opting to become the employees owning career ladder that more promising of course. Though in all science branches, brain intelligence is very influencing to support the efficacy. (Choosing football as effect, non as cause)
  3. Not yet the existence of more hitting concern government of this athletics, government still focuses at economic area.

See some that constraints, in fact can be done with some step to correct this system:

  1. Governmental support to make the more promising salary standard for example, so that doubt parent needn’t be indecisive to send to school its child for the football
  2. To following policy Thanksin ( PM Thailand) sending its player out country for the training of with famous football club
  3. Make-Up of football infrastructure
  4. Correct to bounce, correct the physical, correct the attitude, correct the audience character, we should be able to esteem the opponent.

Hopefully this article there [is] reading and giving input for Football association in Indonesia

By: Didi Kurniawan Hadi and Hendro @ train Jakarta-Yogya

Tidak Harus Dengan Bunga 0

Dec23

Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan saya menyukai perasaan hangat yang muncul di perasaan saya, ketika saya bersandar di bahunya yang bidang.

Tiga tahun dalam masa perkenalan, dan dua tahun dalam masa pernikahan, saya harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-alasan saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.


Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar sensitif serta berperasaan halus. Saya merindukansaat-saat romantis seperti seorang anak yangmenginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan

.

Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan.Rasa sensitif-nya kurang. Dan ketidakmampuannya dalammenciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.

Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan perceraian.

“Mengapa ?”, tanya suami saya dengan terkejut.

“Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan,” jawab saya.

Suami saya terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak. Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya ?

Dan akhirnya suami saya bertanya,” Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiran kamu ?”

Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan, “Saya punya pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam perasaan saya, saya akan merubah pikiran saya:Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung. Kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan
memetik bunga itu untuk saya ?”

Dia termenung dan akhirnya berkata,”Saya akan memberikan jawabannya besok.”

Perasaan saya langsung gundah mendengar responnya.

Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya menemukan selembar kertas dengan oret-oretan tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan…

“Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya.”

Kalimat pertama ini menghancurkan perasaan saya. Saya melanjutkan untuk membacanya.
“Kamu selalu pegal-pegal pada waktu ‘ teman baik kamu’ datang setiap bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kaki kamu yang pegal.”

“Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi aneh’.Saya harus membelikan sesuatu yang dapat menghibur kamu di rumah atau meminjamkan lidah saya untuk menceritakan hal-hal lucu yang saya alami.”

“Kamu selalu terlalu dekat menonton televisi, terlalu dekat membaca buku, dan itu tidak baik untuk kesehatan mata kamu.

Saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kuku kamu dan mencabuti uban kamu.”

“Tangan saya akan memegang tangan kamu, membimbing kamu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah.

Menceritakan warna-warna bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajah kamu.”

“Tetapi Sayang, saya tidak akan mengambil bunga indah yang ada di tebing gunung itu hanya untuk mati..Karena, saya tidak sanggup melihat air mata kamu mengalir menangisi kematian saya.”

“Sayang, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintai kamu lebih dari saya mencintai kamu. Untuk itu Sayang, jika semua yang telah diberikan tangan saya, kaki saya, mata saya tidak cukup buat kamu, saya tidak bisa menahan kamu untuk mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakan kamu.”

Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk terus membacanya.

“Dan sekarang, Sayang, kamu telah selesai membaca jawaban saya. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkan saya untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri di sana menunggu jawaban kamu.”

“Jika kamu tidak puas dengan jawaban saya ini, Sayang, biarkan saya masuk untuk membereskan barang-barang saya, dan saya tidak akan mempersulit hidup kamu.Percayalah, bahagia saya adalah bila kamu bahagia.”

Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaan saya.

Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari dia mencintai saya. Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari perasaan kita, karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalamwujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita
bayangkan sebelumnya.

Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu. Karena cinta tidak selalu harus berwujud” bunga“.

How to make Great Motivation Letter 0

Dec23

Bagaimana membuat motivation letter yang baik? Dalam membuat motivation letter untuk mengikuti sebuah ajang perlombaan, melamar pekerjaan, Langkah langkah yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Sebaiknya ada melakukan searching di google, yahoo, altavista, 37.com mengenai perusahaan yang ingin anda masuki, dan ingat untuk be update

2. Lihat performance perusahaan yang paling menonjol, trus sentuhlah pada sisi tersebut.misalnya innovation, CSR, employee empowerment, growth, dsb.

3. Tunjukkan interest anda pada perusahaan itu dan tunjukkan kapabilitas anda:

berikut dibawah saya sertakan beberapa sample motivation letter.

Motivation Letter Mengikuti Trust Danone International Business Game:

As one big company in the world, Danone has good human resources management. Human Resources in Danone always played in the central role. Take a company value that made Danone can contribute to collective performance, create for the right business and social balance. Danone has unique culture ‘leadership for all’ and the encouragement of a ‘networking attitude’ which all employees can share his/her ideas within company.

I think to make a good human resources which can made a company balance with social environment isn’t simply. To make all employees grow up together with company’s success isn’t simply too. But, Danone can done. Maybe Human Resources in Danone can play with heart. Because of that, I very interesting to know and learn much more about Human Resources in Danone. I think that will be happen if I join in Danone trust competition. So, I can applying my study (Psychology) well.

Another reason why I join in Danone trust competition is to perfume my university (UGM) before I’m graduated. And Danone trust competition give me that chance. If a actor, Robin Williams in Dead Poets Society, always say ‘Carpe Diem’ or ‘Seize The Day’, I believe that. Simplify, if any chance, why not to ‘carpe diem’?

Motivation Letter yang lain

When I first heard about Trust Competition by Danone, I was driven by its benefits for joining this competition. I could imagine how big this competition could add value in my life, from improving skill to enlarging network. I strongly believe by being participant of this competition, I will be able to enrich my knowledge, apply what I had learned, get close to real business world, and meet many incredible people. This will definitely brings great positive impact for me.

So then to find out more about the company, I log on Danone website and I realize that what I would get is much more than what I firstly imagined. It is in Danone’s way of doing business the strength laid. Danone is not just an ordinary capitalist company which only cares for its stockholder interest. Much more to that it care for its entire stakeholder. I’m really impressed by Danone CSR programs, its strong commitment to the betterment of society. What Danone had done and continue do for the development of human being in this world, especially in less developed countries is an amazing thing. And being able to be part of this incredible company, to look closer on its business operation is such an honor for me. Danone showed that being a good company is not just good on its bottom line but also on its involvement in community service. This encourages me to do more not only for me but also the community.

If there is one competition offering opportunities to add lots benefits for my self and community, plus a free trip to Paris…how can I say no to it?

Beyond Greening: Strategist for sustainable world 0

Dec23

Saat ini perusahaan sudah menerima bahwa perlindungan terhadap lingkungan ikut dalam tanggung jawab perusahaan. Tantangan yang dihadapi perusahaan pun bertambah, salah satunya untuk menciptakan ”suistanable global economy” dimana lingkungan juga akan mendukung. Saat ini sedikit perusahaan menyadari bahwa lingkungan juga menimbulkan kesempatan, seperti Risk reduction, cost cutting, reengineering.

Kenyataannya perekonomian global mempunyai tiga perbedaan:

a. Perekonomian pasar

b. Survival economy

c. Nature’s economy

Strategies for a sustainable World

Paul Ehrlich & Barry Commoner membuat observasi tentang pertumbuhan yang berkelanjutan.EB (total environmental burden) adalah fungsi dari tiga faktor yaitu:

P ( population) x A ( affluence) x T ( technology).Untuk mencapai sustainabilitas membutuhkan pengurangan atau menstabilkan dari environmental burden.bisa dilakukan dengan mengurangi populasi manusia, lower consumtion, mengganti teknologi.

Visi dibutuhkan perusahaan untuk menuntun perusahaan melalui tiga tahap dalam environmental strategy.

(1) Pollution prevention

(2) Product stewardship

(3) Clean technology

Sustainability vision.

Tiga strategi diatas tidak akan membentuk sustainability, tanpa kerangka yang akan memberikan arah. Sebuah visi seperti peta untuk masa depan, yang menunjukkan produk dan jasa apa yang harus dikembangkan dan kompetensi apa yang dibutuhkan.

Value Innovation: The Strategic Logic of High Growth 0

Dec23

Saat ini bagi perusahaan pertumbuhan yang menguntungkan adalah tantangan dasyat yang perusahaan hadapi. Perbedaan antara perusahaan yang sukses dan gagal bukan terletak pada model perencanaan atau alat analisis yang dipilih manajer, tetapi pada asumsi fundamental perusahaan pada strategi. Dalam pendekatan konvensional, pemikiran stratejik adalah leading the competition, tetapi saat ini adalah membuat para pesaing menjadi tidak relevan adalah strategic thinking, hal ini sering disebut value innovation.

Conventional logic VS Value Innovation

Perbedaan mendasar pada dua metode diatas terletak pada lima hal:

  1. Industri assumtions 4. Asset dan kapabilitas
  2. Fokus strategi 5. penawaran produk dan jasa.
  3. pelanggan

Creating a new value curve

Perusahaan harus dapat membuat celah baru dalam industrinya untuk menciptakan irrelevant competition. Untuk menciptakan keadaan tersebut perusahaan harus bercermin pada empat pertanyaan berikut:

1. Faktor apa saja yang ada di dalam perusahaan yang secara pasti harus di eleminiasi?

2. Faktor apa yang seharusnya dikurangi yang berada di bawah standar perusahaan?

3. Faktor apa yang seharusnya ditambah yang berada di atas standar perusahaan?

4. Faktor apa yang harus dibuat perusahaan yang tidak pernah terjadi sebelumnya?

The trap of competing, the Necessity of repeating

Ketika salah satu perusahaan berhasil membuat a new value curve, maka tak lama kemudian kompetitor pasti akan menirunya. Karena itu perusahaan harus mempunyai strategi untuk keluar dari trap tersebut untuk mencapai high performance level.

The three platforms

Ada tiga platform yang membawa keuntungan tetapi sering diabaikan perusahaan yaitu:

Produk, servis, dan distribusi. Perusahaan harus memperhattikan ketiga platform tersebut dan fokus pada customer value untuk membawa perusahaan sebagai the Win